Puasa tapi Makin Buncit & Lemas?

  • 04 Mar 2026 14:42 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Memasuki pertengahan Ramadan, tidak sedikit masyarakat mengeluhkan tubuh yang terasa semakin lemas, berat badan yang tidak kunjung turun, bahkan lingkar perut yang justru bertambah. Menurut Indra Gunawan, kondisi ini bukan semata-mata karena kurangnya disiplin, melainkan karena mekanisme otak yang telah “terbiasa” dengan asupan gula berlebih.

Dalam sesi edukasinya, dr. Indra menjelaskan sisi neurosains di balik craving makanan manis saat berbuka. Ia memaparkan bahwa gula rafinasi memicu lonjakan dopamin dalam jumlah besar di otak, efek yang secara biologis menyerupai respons terhadap zat adiktif. Tidak heran jika keinginan mengonsumsi makanan manis terasa sulit dikendalikan.

Ia menambahkan, semakin sering seseorang mengonsumsi gula, otak akan melakukan proses down regulation, yakni mengurangi jumlah reseptor dopamin yang aktif. Akibatnya, kadar gula yang sebelumnya terasa cukup tidak lagi memberikan efek yang sama. Tubuh pun menuntut asupan lebih banyak untuk mendapatkan sensasi “puas”, sementara tanpa gula seseorang bisa merasa hampa dan kurang bertenaga.

Di sisi lain, konsumsi gula berlebih juga berkaitan dengan resistensi leptin. Leptin berfungsi sebagai sinyal kenyang yang memberi tahu otak bahwa tubuh telah mendapatkan cukup energi. Namun, peradangan akibat asupan gula tinggi dapat mengganggu sinyal ini, sehingga otak terus mendorong keinginan makan meskipun kebutuhan energi sebenarnya telah terpenuhi.

Faktor lain yang jarang disadari adalah peran mikrobiom usus. Dr. Indra mengungkapkan bahwa bakteri tertentu, termasuk ragi seperti Candida, berkembang dengan memanfaatkan gula sebagai sumber energi utama. Mikroorganisme ini dapat memengaruhi sistem saraf melalui sumbu usus-otak, sehingga keinginan mengonsumsi makanan manis seolah muncul secara spontan, padahal ada mekanisme biologis yang mendorongnya.

Untuk menghadapi lonjakan konsumsi gula menjelang Lebaran, dr. Indra menyarankan strategi “Reset 72 Jam”. Protokol ini dilakukan dengan menghentikan seluruh asupan gula rafinasi, sirup, dan pemanis buatan selama tiga hari penuh. Dalam kurun waktu tersebut, sensitivitas indera pengecap akan meningkat kembali, sehingga rasa manis alami dari buah sudah cukup memberikan kepuasan tanpa perlu mengonsumsi kue berlebihan.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya teknik food sequencing saat menyantap hidangan manis. Mengonsumsi protein seperti ayam, telur, atau tempe sebelum kue kering dapat memperlambat penyerapan gula ke dalam darah dan mengurangi lonjakan glukosa. Tidak kalah penting, kualitas tidur perlu dijaga karena kurang tidur meningkatkan kadar kortisol yang memicu keinginan mencari energi instan dari gula. Dengan pola makan terstruktur dan tidur yang cukup, tubuh memiliki “pertahanan” yang lebih kuat untuk mengendalikan kecanduan manis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....