Jangan Gegabah Menyimpulkan Saraf Kejepit
- 10 Feb 2026 12:57 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - dr. Asadullah,SpBS, F-TB Spesialis Bedah Saraf sekaligus konsultan tulang belakang, mengulas berbagai kesalahpahaman yang kerap muncul di masyarakat terkait gangguan saraf, khususnya saraf kejepit. Dalam Siniar HOHO HIHI ON THE WEEKEND di Kanal Youtube Abdel Achrian, Ia menekankan pentingnya pemahaman yang tepat agar masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan medis.
Menurut dr. Asadullah, keluhan nyeri pinggang tidak selalu identik dengan saraf kejepit. Secara klinis, hanya sekitar 10–20 persen kasus nyeri pinggang yang benar-benar berkaitan dengan gangguan saraf.
Sebagian besar keluhan justru disebabkan oleh masalah otot atau sendi tulang belakang. Keluhan umumnya dipicu oleh kelelahan fisik, posisi tubuh yang keliru, atau aktivitas berulang dengan postur yang salah.
Ia juga menyoroti anggapan bahwa hasil MRI menjadi dasar mutlak untuk tindakan operasi. Faktanya, hampir 96 persen individu berusia di atas 65 tahun akan menunjukkan gambaran “saraf kejepit” pada pemeriksaan MRI, meskipun tidak mengalami keluhan apapun.
Kondisi ini lebih mencerminkan proses degeneratif alami akibat penuaan, layaknya perubahan warna rambut. Oleh karena itu, keputusan operasi hanya dipertimbangkan apabila temuan MRI selaras dengan gejala klinis yang dirasakan pasien.
Lebih lanjut, dr. Asadullah menjelaskan bahwa saraf kejepit yang memerlukan penanganan serius memiliki ciri khas tertentu. Syaraf kejepit menimbulkan nyeri yang menjalar dari pinggang hingga ke kaki dengan sensasi menyerupai sengatan listrik.
Penyakit ini juga menimbulkan rasa panas, kebas, atau kesemutan pada area tertentu. Pada kondisi yang lebih berat, gangguan ini dapat berkembang menjadi kelemahan anggota gerak hingga kesulitan mengontrol buang air kecil atau besar.
Selain faktor usia, beberapa kebiasaan sehari-hari turut mempercepat kerusakan tulang belakang. Merokok, misalnya, dapat menghambat aliran darah ke bantalan tulang belakang sehingga mempercepat proses keausan.
Penggunaan gawai secara berlebihan dengan posisi menunduk juga meningkatkan beban pada tulang leher, mengingat berat kepala manusia berkisar antara 4–5 kilogram. Sementara itu, kesalahan teknik saat mengangkat beban, yang kerap terjadi pada anak muda, turut meningkatkan risiko cedera tulang belakang.
Sebagai langkah pencegahan, dr. Asadullah menyarankan penerapan gaya hidup sehat, seperti rutin melakukan latihan untuk memperkuat otot inti (core muscle exercise), menjaga berat badan ideal, menghentikan kebiasaan merokok, serta membiasakan postur duduk yang tegak dan ergonomis. Dengan pendekatan tersebut, kesehatan saraf dan tulang belakang dapat terjaga dalam jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....