Mengenal Ragam Tempe Asli Indonesia, dari Mlanding hingga Tempe Bongkrek

  • 01 Agt 2026 16:38 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Ranai - Di balik kesederhanaannya, tempe merupakan bukti kreativitas pangan lokal Indonesia yang telah diwariskan secara turun-temurun. Melansir dari Instagram @balaitani, tidak hanya dibuat dari kedelai, berbagai daerah di Indonesia juga mengolah bahan pangan lain menjadi tempe dengan cita rasa, tekstur, dan karakter yang khas.

Salah satu jenisnya adalah tempe mlanding atau tempe lamtoro yang dibuat dari biji lamtoro berukuran kecil. Tempe ini memiliki cita rasa gurih dan tekstur empuk setelah dimasak, serta kerap diolah menjadi besengek dengan campuran santan dan bumbu kelapa pedas.

Ada pula tempe benguk yang menggunakan kacang koro pedang atau velvet bean sebagai bahan bakunya. Tempe ini memiliki warna lebih gelap, tekstur agak kasar, serta aroma yang lebih tajam dibandingkan tempe kedelai dan dapat diolah menjadi sayur lodeh maupun besengek benguk.

Kekayaan tempe non-kedelai juga terlihat pada tempe kacang hijau yang banyak ditemukan di sejumlah wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tempe ini memiliki tekstur lebih padat dengan rasa gurih dan aroma kacang yang lembut, sehingga dapat digoreng ataupun diolah menjadi berbagai hidangan berbumbu.

Di antara berbagai jenis tersebut, tempe bongkrek menjadi salah satu yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari sisi keamanan pangan. Tempe yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah, ini dibuat menggunakan ampas atau bungkil kelapa dan berisiko terkontaminasi bakteri Burkholderia gladioli yang dapat menghasilkan racun berbahaya.

Keracunan akibat tempe bongkrek pernah menimbulkan korban jiwa dengan tingkat kematian yang sangat tinggi. Karena itu, pengolahan dan produksi tempe bongkrek membutuhkan kehati-hatian serta penerapan keamanan pangan yang ketat, terutama untuk mencegah kontaminasi selama proses pembuatannya.

Keberadaan tempe mlanding, benguk, kacang hijau, hingga bongkrek menunjukkan luasnya kreativitas masyarakat Indonesia dalam mengolah hasil alam menjadi pangan. Kekayaan tersebut bukan hanya bagian dari warisan kuliner, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal yang perlu dilestarikan dengan tetap mengutamakan keamanan dan kesehatan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....