Realita Bahan Bakar Hidrogen dan Tantangan Logam Tanah Jarang
- 05 Jun 2026 10:42 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - Pemanfaatan air sebagai sumber bahan bakar kendaraan telah lama menjadi topik yang menarik perhatian publik. Berbagai klaim mengenai teknologi yang mampu mengubah air menjadi bahan bakar secara langsung kerap muncul, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan akan sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Indarta Kuncoro Aji dalam Siniar Hoho-Hihi On the Weekend menjelaskan bahwa dari perspektif sains, hidrogen memang dapat diperoleh dari air melalui proses elektrolisis. Dalam proses ini, molekul air (H₂O) dipecah menjadi unsur penyusunnya, yaitu hidrogen dan oksigen, dengan bantuan energi listrik.
Hidrogen yang dihasilkan kemudian dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi pada kendaraan berbasis fuel cell. Teknologi ini bekerja dengan mengubah hidrogen menjadi energi listrik melalui reaksi elektrokimia, sehingga kendaraan dapat beroperasi tanpa menghasilkan emisi karbon secara langsung dari proses penggeraknya.
Meski konsepnya menjanjikan, Dr. Indarta menilai penerapan teknologi hidrogen secara luas masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satu tantangan terbesar terletak pada kebutuhan material khusus yang berperan sebagai katalis dalam berbagai proses produksi dan pemanfaatan hidrogen. Material tersebut banyak bergantung pada unsur-unsur yang termasuk dalam kelompok Logam Tanah Jarang (Rare Earth Elements).
Menurut Dr. Indarta, ketersediaan Logam Tanah Jarang yang terbatas serta biaya produksinya yang tinggi menjadi faktor utama yang menghambat percepatan adopsi teknologi hidrogen. Dari sisi industri, investasi yang dibutuhkan saat ini masih tergolong besar, sementara keuntungan ekonominya belum sepenuhnya mampu menutupi biaya pengembangan dan implementasi dalam skala massal.
Kondisi tersebut membuat sebagian besar industri energi global masih mengandalkan metode yang lebih ekonomis untuk memproduksi hidrogen, yakni melalui pemrosesan bahan bakar fosil seperti gas alam dan batu bara. Meskipun metode ini belum sepenuhnya ramah lingkungan, pendekatan tersebut dinilai lebih realistis untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam jangka pendek hingga menengah.
Walaupun demikian, Dr. Indarta optimistis masa depan energi hidrogen tetap menjanjikan. Perkembangan teknologi material, peningkatan efisiensi proses produksi, serta inovasi dalam sistem penyimpanan energi diyakini akan membuka peluang yang lebih besar bagi pemanfaatan hidrogen sebagai sumber energi bersih. Dengan kemajuan riset yang terus berlangsung, transisi menuju ekosistem energi berbasis hidrogen diperkirakan akan menjadi semakin memungkinkan di masa mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....