Memahami Perbedaan Fisi dan Fusi Nuklir dengan Pendekatan Sederhana

  • 05 Jun 2026 10:42 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Fisika nuklir kerap dipandang sebagai bidang ilmu yang rumit dan sulit dipahami oleh masyarakat luas. Salah satu konsep yang paling sering menimbulkan kebingungan adalah perbedaan antara reaksi fisi dan reaksi fusi, dua mekanisme inti atom yang menjadi dasar berbagai teknologi energi nuklir modern.

Secara umum, fisi dan fusi merupakan dua jenis reaksi yang terjadi pada inti atom. Reaksi fisi berlangsung melalui proses pembelahan inti atom menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sedangkan reaksi fusi terjadi ketika dua inti atom bergabung membentuk inti baru yang lebih besar. Kedua proses tersebut sama-sama menghasilkan energi, namun melalui mekanisme yang berbeda.

Dalam penjelasannya di youtube Abdel Achrian, Dr. Indarta Kuncoro Aji menekankan bahwa tidak semua unsur di alam dapat mengalami reaksi fisi maupun fusi. Menurutnya, proses tersebut hanya dapat terjadi pada atom dengan karakteristik tertentu dan membutuhkan kondisi lingkungan yang sangat spesifik, termasuk suhu serta tekanan yang ekstrem.

Dr. Indarta menjelaskan bahwa reaksi fisi umumnya terjadi pada unsur berat seperti Uranium-235. Ketika inti atom tersebut menyerap partikel tertentu dan menjadi tidak stabil, inti akan terbelah menjadi fragmen yang lebih kecil sambil melepaskan energi dalam jumlah besar. Hingga saat ini, teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir yang beroperasi di berbagai negara masih mengandalkan prinsip fisi sebagai sumber energinya.

Sementara itu, reaksi fusi bekerja dengan cara yang berlawanan. Proses ini melibatkan penyatuan inti-inti atom ringan, seperti isotop hidrogen, menjadi inti yang lebih besar. Menurut Dr. Indarta, mekanisme inilah yang secara alami berlangsung di inti Matahari dan menjadi sumber energi utama yang menyinari tata surya setiap saat.

Untuk mereplikasi proses yang terjadi di Matahari, para ilmuwan mengembangkan reaktor khusus yang dikenal sebagai Tokamak. Reaktor berbentuk cincin menyerupai donat raksasa ini memanfaatkan medan magnet berkekuatan tinggi untuk menahan plasma hidrogen bersuhu sangat panas agar tetap stabil selama proses fusi berlangsung. Dengan cara tersebut, plasma tidak bersentuhan langsung dengan dinding reaktor yang dapat menyebabkan kerusakan.

Dr. Indarta menilai pemahaman mengenai fisi dan fusi penting untuk meningkatkan literasi sains masyarakat sekaligus mengurangi stigma negatif terhadap teknologi nuklir. Ia menambahkan bahwa apabila penelitian fusi yang saat ini terus berkembang berhasil diterapkan secara komersial, dunia berpotensi memperoleh sumber energi yang bersih, aman, dan tersedia dalam jumlah sangat besar untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....