Hidrogen dan Revolusi Kendaraan Ramah Lingkungan

  • 07 Apr 2026 10:17 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Bayangkan sebuah jalan raya yang tetap ramai, tetapi tanpa bau asap knalpot. Yang terlihat justru hanya uap air tipis keluar dari kendaraan. Gambaran yang dulu terasa seperti fiksi ilmiah itu kini sedang diwujudkan melalui riset energi bersih di berbagai negara.

Ahli Renewable Energy Engineering, Adam Febriyanto Nugraha, S.T., Ph.D., Dalam Siniar HOHOHIHI On The Weekend menjelaskan bahwa masa depan otomotif tidak semata-mata bertumpu pada baterai listrik. Ada teknologi lain yang berkembang pesat, yakni fuel cell berbahan bakar hidrogen.

Prinsip Kerja: Reaksi Kimia Tanpa Pembakaran

Berbeda dari mesin konvensional yang membakar bensin atau solar, kendaraan hidrogen bekerja melalui reaksi elektrokimia. Di dalam sistem fuel cell, hidrogen bereaksi dengan oksigen dari udara.

"Di sana terjadi interaksi antara ion hidrogen dan oksigen. Reaksi kimia ini menghasilkan dua hal utama: energi listrik untuk menggerakkan roda mobil, dan air (H2O) sebagai sisa buangannya," jelas Adam.

Karena tidak ada proses pembakaran, tidak dihasilkan karbon dioksida (CO₂). Produk akhirnya hanyalah air dalam bentuk uap panas—serupa uap yang keluar dari penanak nasi. Inilah yang membuat kendaraan hidrogen dikategorikan sebagai kendaraan tanpa emisi pada titik penggunaan (zero tailpipe emission).

Sejumlah produsen otomotif telah mengomersialkan teknologi ini. Toyota menghadirkan model Toyota Mirai, sementara Hyundai memasarkan Hyundai Nexo.

Di Jepang, pembangunan stasiun pengisian hidrogen terus diperluas untuk mendukung ekosistem kendaraan ini. Infrastruktur menjadi kunci, karena tanpa jaringan pengisian yang memadai, adopsi teknologi akan berjalan lambat.

Di Indonesia, pemanfaatan hidrogen saat ini lebih diarahkan untuk kebutuhan stationary, seperti pembangkit listrik mandiri. Untuk kendaraan pribadi, tantangan utamanya masih pada ketersediaan infrastruktur pengisian hidrogen yang luas dan terstandarisasi.

Keunggulan Dibanding Kendaraan Listrik Baterai

Salah satu daya tarik utama mobil hidrogen adalah waktu pengisian yang sangat singkat. Jika mobil listrik berbasis baterai memerlukan waktu berjam-jam untuk pengisian penuh, kendaraan hidrogen hanya membutuhkan sekitar 3–5 menit—setara dengan mengisi bensin di SPBU.

Selain itu, kendaraan hidrogen cenderung memiliki bobot lebih ringan dibanding mobil listrik berbaterai besar, serta menawarkan jarak tempuh yang kompetitif.

Melihat perkembangan riset dan investasi global, hidrogen dipandang sebagai pelengkap—bukan pesaing—mobil listrik baterai. Keduanya berpotensi berjalan beriringan dalam menekan emisi karbon sektor transportasi. Masa depan transportasi yang lebih bersih bukan lagi sekadar wacana; teknologinya sudah ada, tinggal menunggu kesiapan infrastruktur dan komitmen bersama untuk mengembangkannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....