Industri Fast Fashion yang Mengancam Lingkungan

  • 01 Des 2025 20:54 WIB
  •  Ranai

KBRN, Ranai: Fenomena fast fashion telah mengubah cara manusia berpakaian secara drastis dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan ini membawa konsekuensi serius bagi lingkungan di bumi, terutama terkait tingginya volume limbah dan polusi yang dihasilkan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari akun YouTube Context ID dengan video berjudul Industri Fashion, Buat Bumi Hancur Lebih Cepat? Perubahan pasar membuat harga pakaian baru menjadi sangat terjangkau, sehingga meningkatkan siklus produksi secara masif.

Peningkatan produksi sangat ekstrem, di mana pergantian jenis baju di toko yang dulu hanya 1-2 kali setahun kini bisa mencapai 52 kali setahun pada tahun 2014. Hal ini menyebabkan kelebihan produksi yang signifikan serta memicu sifat konsumtif atau hedonisme di kalangan pembeli.

Dampak terburuknya adalah pencemaran lingkungan yang masif karena proses pencucian dan pewarnaan pakaian menggunakan bahan kimia berbahaya. Air bekas proses industri ini menyumbang sekitar 20% dari total polusi air global, dan sempat terbukti nyata melalui kasus banjir merah di Pekalongan tahun 2021.

Selain air, peningkatan produksi fast fashion berbanding lurus dengan peningkatan emisi gas rumah kaca, mencapai 1,2 miliar ton, bahkan melebihi emisi dari penerbangan dan maritim. Untuk membuat satu kaos saja, dibutuhkan 2.720 liter air, setara dengan kebutuhan air minum manusia selama tiga tahun.

Pada akhir masa pakainya, pakaian-pakaian ini berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebagai limbah karena 90% kain yang digunakan sulit terurai dan mengendap selama bertahun-tahun. Pada tahun 2016, sampah fashion dunia sudah mencapai 800.000 ton, menjadikan industri ini sebagai industri terkotor kedua setelah minyak bumi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....