Seni Penyamaran di Balik Layar: Mengintip Operasi Rahasia KPK

  • 14 Jul 2026 07:40 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Selama ini, kita sering kali melihat keberhasilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) melalui pemberitaan di media. Namun, jarang ada yang tahu bahwa di balik kesuksesan yang tampak instan tersebut, ada proses pengintaian yang sangat panjang, rumit, dan penuh risiko. Dalam Siniar Hoho Hihi On The Weekend, Amir Arief yang merupakan Direktur Sosialisasi dan kampanye Anti Korupsi KPK membongkar salah satu rahasia paling menarik di balik dapur operasi lapangan KPK yang selama ini tertutup rapat dari konsumsi publik.

Amir Arief memaparkan bahwa KPK memiliki sebuah divisi khusus yang bertugas mempelajari seni peran, olah tubuh, hingga teknik tata rias (make-up) profesional. Divisi ini dibentuk bukan untuk keperluan hiburan, melainkan sebagai instrumen vital dalam mendukung operasi rahasia (surveillance) di lapangan. Ketika seorang target korupsi mulai diintai, para agen lapangan dituntut untuk bisa melebur dengan lingkungan sekitar target tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun.

Menariknya, profesionalitas para agen lapangan KPK ini tidak lahir begitu saja melalui simulasi internal. Amir Arief mengungkapkan di Hoho Hihi bahwa pada masa-masa awal berdirinya lembaga ini, KPK secara totalitas menggandeng para seniman dan aktor watak senior legendaris Indonesia. Nama-nama besar di dunia teater dan perfilman tanah air, seperti (almarhum) Didi Petet dan (almarhum) Yayu Unru, dilibatkan langsung sebagai instruktur untuk melatih para calon penyidik dan penyelidik KPK.

Di bawah bimbingan para maestro akting tersebut, para agen lapangan KPK digembleng untuk menguasai metode method acting yang mendalam. Mereka dilatih bagaimana cara berjalan, berbicara, menatap, hingga membangun gestur tubuh yang natural sesuai dengan karakter penyamaran yang ditugaskan. Latihan ini sangat krusial karena kesalahan kecil seperti tatapan mata yang terlalu tajam atau cara memegang barang yang tidak biasa bisa langsung membongkar identitas sang agen.

Melalui penuturannya di Hoho Hihi, Amir Arief menjelaskan bahwa penyamaran di lapangan bisa berbentuk apa saja demi mendekati target korupsi. Seorang agen KPK harus mampu secara instan berubah peran menjadi pedagang kaki lima, tukang bakso, pembersih jalanan, sopir taksi, hingga pelayan restoran mewah. Mereka harus benar-benar menguasai profesi palsu tersebut secara totalitas, mulai dari cara menyajikan makanan hingga cara berinteraksi dengan pelanggan asli di lapangan.

Kombinasi antara keahlian make-up efek yang mampu mengubah struktur wajah dengan kemampuan akting yang matang membuat operasi senyap KPK menjadi sangat mematikan bagi para koruptor. Banyak target operasi yang sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang setiap hari mangkal di depan rumahnya atau pelayan yang mengantarkan kopi ke mejanya adalah seorang aparat penegak hukum yang sedang merekam setiap gerak-gerik dan pola komunikasinya.

Melalui cerita di balik layar yang dibagikan dalam obrolan Hoho Hihi ini, kita diajak untuk melihat sisi lain dari perjuangan pemberantasan korupsi yang penuh dedikasi. Keberhasilan menangkap seorang koruptor kakap bukan sekadar masalah keberuntungan, melainkan buah dari perencanaan matang, kesabaran, dan profesionalisme tingkat tinggi para agen di lapangan. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa untuk menghadapi kejahatan yang terorganisir, negara harus selangkah lebih kreatif dan total dalam mempersiapkan para pejuang integritasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....