Mantan Aktivis Justru Jadi Koruptor Serakah saat Pegang Jabatan

  • 14 Jul 2026 07:40 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Satu hal yang paling ironis dalam panggung politik Indonesia adalah ketika melihat figur-figur yang dahulunya dikenal vokal meneriakkan keadilan, justru berakhir mengenakan rompi oranye tahanan KPK. Amir Arief, Direktur Sosialisasi dan kampanye Anti Korupsi KPK dalam Siniar Hoho Hihi On The Weekend, mengonfirmasi sebuah realitas pahit bahwa banyak kasus korupsi di tanah air yang justru menjerat orang-orang dengan rekam jejak mentereng sebagai aktivis atau tokoh pemuda yang dahulunya sangat idealis.

Amir Arief menjelaskan bahwa perubahan drastis ini berkaitan erat dengan transisi posisi seseorang dari luar sistem ke dalam sistem kekuasaan. Saat masih berdiri di luar sebagai kritikus, beban moral yang dipikul relatif linier karena mereka bertindak sebagai pengawas. Namun, ujian integritas yang sesungguhnya baru dimulai ketika mereka melangkah masuk ke dalam lingkaran kekuasaan dan diberikan kewenangan formal untuk mengatur regulasi maupun mengelola anggaran negara yang bernilai fantastis.

Secara psikologis, Amir Arief menyebut fenomena ini sebagai pergeseran dari fase pressure (tekanan idealisme) menuju fase pleasure (kenikmatan kekuasaan). Ketika idealisme masa muda tidak dirawat dengan kontrol diri yang kuat, paparan terhadap fasilitas, kemewahan, dan rasa hormat yang berlebihan dari sekelilingnya lambat laun akan melumpuhkan nalar kritis mereka. Mantan aktivis yang dahulunya garang melawan penindasan, perlahan-lahan mulai menikmati kenyamanan sistem yang dahulu mereka maki.

Lebih jauh Amir Arief menyoroti bahwa mantan aktivis sering kali terjebak dalam jebakan rasionalisasi yang keliru. Ketika mereka melihat celah kesempatan untuk melakukan korupsi, otak mereka akan memproduksi pembenaran-pembenaran semu. Mereka kerap menganggap uang haram yang diterima sebagai "biaya perjuangan" yang sah atau bentuk kompensasi atas lelahnya masa lalu saat mereka berdarah-darah memperjuangkan perubahan dari jalanan.

Rasionalisasi keliru ini pada akhirnya melahirkan mentalitas serakah (greedy) yang sangat masif. Korupsi yang dilakukan oleh mantan aktivis sering kali tidak kalah destruktifnya dengan koruptor dinasti, sebab mereka memiliki kecerdasan intelektual dan jaringan yang luas untuk merancang modus operandi yang rapi. Mereka tahu persis di mana letak kelemahan hukum dan sistem birokrasi, sehingga kemampuan tersebut justru digunakan untuk memanipulasi aturan demi keuntungan pribadi dan kelompoknya.

Tragedi jatuhnya para idealis ini memberikan pelajaran berharga bagi pergerakan antikorupsi di Indonesia. Integritas bukanlah sesuatu yang bersifat statis atau melekat permanen hanya karena seseorang pernah memiliki masa lalu yang heroik. Kita diingatkan bahwa kekuasaan memiliki sifat korosif yang mampu mengikis moral siapa saja yang tidak memiliki jangkar kepribadian yang kokoh, tanpa memandang apa pun latar belakang organisasinya.

Oleh karena itu, Amir Arief menekankan pentingnya membangun sistem pengawasan yang tidak pandang bulu dan penguatan nilai-nilai antikorupsi yang konsisten di setiap level jabatan publik. Memutus mata rantai korupsi membutuhkan kewaspadaan kolektif, termasuk keberanian untuk bersikap kritis kepada kawan seiring yang mulai goyah oleh godaan materi. Pada akhirnya, perjuangan menjaga idealisme adalah pertempuran batin seumur hidup yang harus dimenangkan setiap hari demi menjaga amanah rakyat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....