Fenomena "Justifikasi Kursi Sekolah": Titip KK dan Joki Zonasi merusak Mental Anak
- 14 Jun 2026 07:53 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - Setiap tahun ajaran baru, sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berbasis zonasi kembali menjadi sumber perdebatan publik. Kebijakan yang pada dasarnya bertujuan untuk pemerataan akses pendidikan justru sering direspons dengan berbagai bentuk kecurangan oleh sebagian orang tua demi memasukkan anak ke sekolah favorit.
Dalam Hoho Hihi On The Weekend, Amir Arief yang merupakan Direktur Sosialisasi dan kampanye Anti Korupsi KPK mengulas fenomena ini dari perspektif pencegahan korupsi, dengan menyoroti bagaimana praktik manipulatif tersebut terbentuk dari level paling dasar dalam kehidupan sosial. Ia menjelaskan bahwa modus yang paling sering muncul adalah manipulasi data kependudukan.
Salah satu praktik yang umum dilakukan adalah “menitipkan Kartu Keluarga (KK)” ke alamat kerabat atau warga yang berdomisili dekat dengan sekolah yang dituju. Pola ini pada dasarnya merupakan bentuk joki zonasi, di mana fakta administratif direkayasa untuk mengamankan kursi yang semestinya diperuntukkan bagi anak-anak yang benar-benar tinggal di sekitar wilayah sekolah tersebut.
Dalam perkembangannya, praktik ini tidak jarang melibatkan unsur suap secara terselubung. Amir Arief mengungkapkan bahwa sebagian orang tua rela memberikan uang pelicin kepada oknum perangkat desa, panitia sekolah, atau bahkan memanfaatkan pengaruh tokoh politik daerah, seperti anggota DPRD, untuk “mengamankan kursi”, yang berdampak pada sistem seleksi yang seharusnya berbasis objektivitas jarak domisili menjadi bias dan kehilangan integritas karena intervensi kekuasaan dan uang.
Namun, kritik utama yang ditekankan Amir Arief bukan hanya pada kerusakan sistem administratif, melainkan pada dampaknya terhadap perkembangan psikologis anak. Ketika orang tua memilih jalan manipulatif, secara tidak langsung mereka memperlihatkan praktik ketidakjujuran sebagai sesuatu yang bisa diterima. Hal ini berpotensi merusak internalisasi nilai kejujuran dan kerja keras yang seharusnya dibangun sejak lingkungan keluarga.
Amir Arief menjelaskan bahwa anak yang masuk melalui jalur tidak sah cenderung mengalami konflik batin, karena menyadari bahwa posisi mereka diperoleh melalui kecurangan yang dilakukan orang tua. Situasi ini dapat mengurangi rasa bangga terhadap pencapaian akademik dan meninggalkan beban psikologis yang sulit diabaikan.
Amir Arief mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam menjaga integritas sistem pendidikan. Sekolah yang baik bukanlah hasil dari rekayasa administratif, melainkan yang diperoleh melalui proses yang jujur dan adil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....