Berburu Durian ke Desa Setengar

  • 24 Jun 2026 14:39 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Geliat musim durian di Kabupaten Natuna selalu berhasil menyedot perhatian warga. Bau harum yang menyengat di sepanjang jalan seolah menjadi magnet yang tidak bisa ditolak oleh para pencinta buah berkulit duri ini. Namun, alih-alih membeli di lapak-lapak pinggir jalan perkotaan, sebagian warga justru memilih cara yang lebih menantangyakni dengan berburu langsung ke desa penghasil.

Hal inilah yang dilakoni oleh Fredi, seorang warga Kota Ranai. Pria yang mengaku sebagai pencinta berat durian ini rela memacu kendaraannya menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu menuju Desa Setengar., Kecamatan Bunguran Selatan. Baginya, perjalanan yang memakan waktu hampir 1 jam dari Ranai tersebut bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah misi perburuan demi memuaskan selera dengan harga yang jauh lebih rasional.

Alasan utama Fredi dan banyak warga Ranai lainnya rela jauh-jauh datang ke Desa Setengar tidak lain adalah karena perbedaan harga yang sangat mencolok. Di area perkotaan seperti Ranai, durian kini sudah tergolong sebagai barang mewah yang harganya kerap menguras kantong.

"Kalau kita beli di Kota Ranai, uang Rp100.000 itu paling cuma dapat 3 sampai 4 biji, itu pun ukurannya sedang. Tapi kalau kita mau sedikit meluangkan waktu dan tenaga ke Desa Setengar, dengan jumlah durian yang sama, kita cuma perlu bayar Rp50.000. Bayangkan, hematnya sampai setengah harga," ungkap Fredi dengan antusias saat ditemui di sela-sela memilih durian.

Selain faktor ekonomi yang jauh lebih hemat, Fredi menambahkan bahwa ada kepuasan psikologis tersendiri saat membeli durian langsung di desa asal. Suasana pedesaan yang asri, dipadukan dengan aroma durian segar yang baru jatuh dari pohonnya, memberikan pengalaman belanja yang unik dan menyegarkan pikiran dari rutinitas kota.

Di Desa Setengar, para pembeli juga bisa menjalin interaksi langsung dengan para petani lokal. Tidak jarang, kehangatan warga lokal membuat para pemburu durian ini dipersilakan mencicipi buahnya terlebih dahulu di tempat sebelum melakukan transaksi pembayaran. Jika ada buah yang busuk atau "mangkir" (belum matang sempurna), petani dengan senang hati akan langsung menggantinya dengan yang baru.

Fenomena serbuan warga kota ke Desa Setengar ini rupanya membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat. Musim panen yang biasanya membuat tengkulak memainkan harga, kini bisa disiasati oleh petani dengan menjualnya langsung kepada konsumen akhir seperti Fredi. Hubungan saling menguntungkan ini membuat perputaran uang di desa meningkat drastis selama musim buah berlangsung.

Bagi Fredi dan para pemburu durian lainnya, jarak puluhan kilometer tidak lagi menjadi beban. Selagi musim panen masih berlangsung dan pohon-pohon di Desa Setengar masih terus menjatuhkan buah terbaiknya, perjalanan berburu durian murah ini dipastikan akan terus berlanjut setiap akhir pekan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....