Tradisi “mencuri istri” Suku Wodaabe di Afrika

  • 06 Okt 2026 11:34 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID,Natuna - Wodaabe (Woɗaaɓe), salah satu kelompok etnis Fulani yang hidup terutama di wilayah Sahel, termasuk Niger, Nigeria, Kamerun, dan Chad. Mereka dikenal sebagai masyarakat penggembala nomaden.

Dilansir dari Africa Online Museum,tradisi “mencuri istri” Wodaabe atau istilah “wife stealing” atau mencuri istri memang sering digunakan untuk menggambarkan salah satu bentuk perkawinan Wodaabe, yang disebut te'egal/teegal. Namun, istilah “mencuri” bisa menyesatkan jika dipahami sebagai penculikan secara paksa.

Penelitian antropologi menjelaskan bahwa dalam banyak kasus perempuan tersebut memang menyetujui untuk pergi dengan laki-laki pilihannya.Dalam bentuk perkawinan kooɓgal, keluarga biasanya mengatur perjodohan sejak masa kanak-kanak, sering kali dengan kerabat tertentu.

Kemudian ada te'egal, yaitu perkawinan berdasarkan pilihan pasangan dan biasanya melibatkan laki-laki dan perempuan dari kelompok garis keturunan yang berbeda.Seorang laki-laki dapat mendekati perempuan yang sudah mempunyai pasangan, kemudian mereka melarikan diri bersama (elopement).

Jika hubungan tersebut diterima menurut aturan adat, pasangan baru dapat diakui sebagai perkawinan.Dalam literatur antropologi, perempuan yang “dicuri” biasanya bukan korban penculikan,melainkan persetujuan perempuan merupakan bagian penting dari proses tersebut.

Tradisi ini sangat berkaitan dengan Guérewol, sebuah perayaan tahunan Wodaabe yang terkenal dengan kompetisi kecantikan dan tari.Para laki-laki berdandan dengan sangat mencolok menonjolkan mata, gigi, tinggi badan, dan keindahan wajah kemudian menari dan bernyanyi.

Perempuan menjadi pihak yang menilai dan memilih laki-laki yang mereka sukai.Jadi gambaran yang sering muncul di internet sebagai “festival mencuri istri” sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai ritual pacaran.

Pemilihan pasangan, dan perkawinan berdasarkan pilihan, yang dalam konteks tertentu dapat mengakibatkan seorang perempuan meninggalkan suami sebelumnya. Penelitian antropologi bahkan menyebut “theft marriage” sebagai istilah yang kurang tepat karena prosesnya umumnya berupa elopement dengan persetujuan perempuan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....