Features: Menjaga Asap Dapur Nelayan

  • 03 Agt 2026 21:55 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Hamparan laut biru sudah sejak lama menjadi sandaran hidup bagi masyarakat Natuna di Provinsi Kepulauan Riau yang mayoritas memiliki profesi sebagai nelayan tangkap. Laut adalah sahabat bagi mereka sekaligus sebagai warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, laut seolah tidak lagi ramah bagi mereka. Perjuangan melawan ombak bahkan badai yang tidak jarang mereka hadapi saat melaut acapkali mendapatkan hasil yang tidak seimbang meskipun sudah berhari hari berada di laut menghabiskan bahan bakar dan ransum. Namun bagi Bang Rahmad salah satu nelayan Ranai, Natuna Ia berjuang untuk terus mendapatkan hasil tangkapan tetap terus dilakukan.

" Pernah pak pernah , sering malahan, pas pas modal tu , tapi kalau sampai rugi kalau bahasa Natuna Capok tu ndak pernah karena memang kita kalau belum dapat itu ndak pulang gitu. jadi kita perbekalan ransumnya itu memang selalu kita lebihkan. jadi kita targetnya tu seminggu maka kita sekarang selalu lebihkan untuk 15 atau 10 hari. jadi itulah antisipasi ada kendala di laut tangkapan susah" Ujar bang Rahmad

Bagi nelayan tentunya bukan hanya persoalan pendapatan. Ada Anak dan istri yang menunggu kadatangan mereka dengan hati yang terkadang berdebar saat cuaca ekstrim. Menjaga asap dapur agar tetap menyala menjadi tujuan utama para nelayan saat ini di tengah semakin sulitnya mendapatkan tangkapan ikan. Menurut pria 40an tahun yang sejak kecil sudah mengenal laut ini menyatakan merosotnya hasil tangkapan nelayan ini dirasakan sejak enam tahun yang lalu.

" Dari 2020 sudah mulai pak, karena hasil tangkapan ikan dari Natuna yang melimpah itu dari 2014 sampai 2019 yang saya tahu. Mungkin waktu itu mungkkin ada upaya yang masif dari pemerintah untuk mengusir pencarian ikan ilegal ini. Waktu itu aja hasil tangkapan gurita Natuna tahun 2018 memang luarbiasa pak, Nelayan bisa menhasilkan 3 sampai 4 juta pak. Tpi sekarang jauh menurun." Ujarnya lagi

Menurunnya hasil tangkapan ikan di laut Natuna oleh nelayan setempat menurutnya dimungkinkan dari beberapa faktor. Pak Hendri, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Natuna, memandang berkurangnya hasil tangkapan nelayan dewasa ini adalah harus bersaingnya nelayan lokal dengan kapal kapal ikan besar dari daerah lain bahkan dari negara negara tetangga.

"Dengan memobilisasi kapal kapal perikanan berskala besar masuk ke laut Natuna menjadi kompetisi bagi nelayan lokal yang armadanya sangat sederhana dan kecil sekali pak. Sehingga sumber daya ikan itu banyak ditangkap oleh armada perikanan yang besar itu. Sementara nelayan kita menangkap dengan alat tangkap tradisional dengan kapal yang kecil, sehingga kita kalah bersaing Pak." Ujar Ketua HNSI Natuna, Hendri

Sebagai wadah bagi organisasi para nelayan local, Ia pun merasa sudah melakukan upaya upaya yang mendorong agar adanya peningkatan daya saing dengan nelayan dari luar. Tidak kalah penting lagi adalah harapan akan pengawasan dan regulasi dilaut yang lebih banyak berpihak kepada para Nelayan Natuna.

"Bagaimana seharusnya Pemerintah Pusat dalam hal ini KKP itu mengutamakan dulu pemberdayaan nelayan Natuna sendiri, alat tangkap mereka dimajukan armada di perbesar sehingga mereka bisa bersaing dengan kapal kapal berskala besar yang masuk ke laut Natuna utara gitu" Ujarnya lagi.

Berhutang barangkali menjadi satu-satunya cara yang cepat agar para nelayan yang legi mengalami krisis keuangan mendapatkan jalan keluar agar tuntutan hidup mulai dari kebutuhan pokok yang lainnya masih dapat teratasi.

"Paling ya ngutang sama bos , jadi kalau mereka tekor ya mau tak mau dari pada nggak makan, anak ndak sekolah jadi mereka rata rata mereka hutang dengan bos itu sampai 20 juta ke atas bahkan ada yang sampai 100 juta lebih." Ujar bang Rahmad

Barangkali masih sangat sedikit diantara kita yang memikirkan perjuangan Nelayan saat menghadapi ancaman ombak dan badai yang tiba-tiba harus dihadapi, Sajian ikan yang terhidang di meja makan adalah hasil dari keringat asin mereka yang sekaligus harus terus mempertahankan asap dapur keluarga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....