Batu Kasah Mengubah Wajah Pesisir Selatan Natuna

  • 14 Okt 2025 10:56 WIB
  •  Ranai

KBRN, Ranai: Angin laut pagi di Desa Cemaga, Natuna, selalu membawa aroma asin yang akrab bagi anak-anak pesisir. Di ufuk timur, siluet batu-batu granit raksasa berdiri kokoh menghadap ke Laut Cina selatan.

itulah Batu Kasah, bentangan batu alam yang sejak kecil menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Cemaga, Kecamatan Bunguran Selatan, Kabupaten Natuna. Kumpulan pilar alam yang selalu menampilkan keindahan panorama negeri di ujung Utara NKRI ini.

Bagi sebagian orang, Batu Kasah mungkin hanya sekumpulan batu besar di tepi pantai. Namun bagi warga setempat, terutama mereka yang tumbuh di pesisir, batu-batu itu adalah penjaga kampung, saksi bisu dari laut, angin, dan cerita yang diwariskan turun-temurun.

Perlahan, pandangan terhadap Batu Kasah berubah. Kawasan yang dulunya hanya dikenal sebagai lokasi memancing dan beristirahat kini mendapat perhatian para peneliti dan pemerintah.

Melalui kajian Badan Pengelola Geopark Natuna (BPGN), Batu Kasah diidentifikasi sebagai salah satu geosite bernilai ilmiah tinggi yang menyimpan singkapan granit Kapur Akhir berusia sekitar 71–100 juta tahun. Formasi batuan ini terbentuk akibat aktivitas busur magmatik purba di bawah sistem subduksi Paleo-Pasifik—menjadikannya satu-satunya eksposisi batuan dasar Mesozoikum di Asia Tenggara bagian tengah.

Temuan ilmiah itu mengubah segalanya. Batu Kasah kini bukan sekadar kebanggaan warga Cemaga, melainkan ikon geologi yang membuka jalan menuju pengakuan dunia melalui program UNESCO Global Geopark.

Jalur edukatif kini membentang di kawasan pantai, dilengkapi papan interpretasi geologi dwibahasa yang menjelaskan proses terbentuknya granit dan struktur tafoni di tebing. Para pelajar datang melakukan penelitian, wisatawan menikmati panorama granit raksasa yang menjulang di atas pasir putih, dan masyarakat lokal menjadi bagian aktif dalam upaya konservasi.

Bagi warga Cemaga, perubahan ini terasa nyata. Aktivitas ekonomi tumbuh—mulai dari warung kopi pesisir, penyewaan perahu wisata, hingga homestay sederhana milik warga. Nelayan pun beradaptasi; mereka tak hanya menggantungkan hidup dari tangkapan ikan, tetapi juga dari jasa wisata dan edukasi lingkungan.

“Kami tidak ingin hanya menjadi penonton,” kata seorang warga yang juga nelayan. “Batu Kasah adalah bagian dari hidup kami. Kalau sekarang banyak orang datang karena keindahannya, kami merasa bangga dan ikut menjaga.”

Selain ekonomi, perubahan juga menyentuh cara pandang masyarakat terhadap alam. Tradisi lokal tentang penghormatan pada laut dan batu kini dipahami bukan sekadar mitos, melainkan bentuk kearifan ekologis yang sejalan dengan konsep geopark—keselarasan antara manusia, alam, dan budaya.

Sore hari di Batu Kasah selalu menghadirkan pemandangan yang sama menakjubkannya. Matahari memberikan nuansa tenang di balik granit megah, menyisakan warna jingga di permukaan laut yang tenang.

Dari kejauhan, anak-anak pesisir bermain di antara batu, sementara wisatawan sibuk mengabadikan momen. Di sinilah, kisah masa lalu dan masa depan Natuna bertemu—antara batu purba yang menyimpan sejarah bumi, dan masyarakat pesisir yang kini menjadi penjaga warisan dunia.

Batu Kasah bukan hanya tentang geologi. Ia adalah cermin tentang bagaimana pengetahuan dan pelestarian bisa tumbuh dari akar budaya lokal. Dari tangan anak-anak nelayan, warisan alam ini kini berlayar menuju panggung global—membawa nama Natuna sebagai geosite kebanggaan Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....