Basri, Dari SD di Ranai hingga Pejabat Natuna
- 12 Okt 2025 05:56 WIB
- Ranai
KBRN, Ranai;Suara tawa kecil Basri terdengar renyah ketika reporter RRI berkunjung di ruang kerjanya pada Kamis ( 09/10/2025) Ia tampak bahagia mengenang masa kecilnya di Ranai. Pria paruh baya yang kini menjabat sebagai Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Natuna itu tampak bersemangat saat membuka lembaran kisah hidupnya.
Perjalanan hidup Pak Basri adalah sebuah perjalanan panjang dari bocah kampung hingga menjadi salah satu pejabat senior di Pemerintahan daerah.
“Dulu SD kami masih beratap seng, berdinding papan,” tuturnya sambil tersenyum. “Saya sekolah di SD 002 Ranai, sekolah yang dekat rumah bapak saya. Waktu itu, ruang kelasnya sempit, tapi semangat kami besar.”

Basri lahir dan besar di pusat Kota Ranai. Sejak kecil, ia sudah terbiasa hidup sederhana di lingkungan masyarakat yang beragam. Sebagai keturunan etnis Tionghoa, Basri tumbuh dalam suasana harmonis di tengah masyarakat Melayu pesisir yang ramah dan terbuka. Dari sinilah, ia belajar makna toleransi dan kerja keras.

Setelah menamatkan SMP di Ranai, Basri melanjutkan SMA ke Jakarta, di sekolah Islam di kawasan Cijantung. Namun tak lama, ia pindah ke Bandung dan melanjutkan pendidikan di SMA Kristen BPPK di Jalan Kebonjati. “Dulu hidup saya berpindah-pindah, tapi dari situ saya belajar mandiri. Saya harus bisa bertahan,” ujarnya mengenang masa remajanya.
Perjalanan hidup Basri benar-benar berubah ketika ia diterima di Institut Teknologi Indonesia (ITI), kampus yang didirikan oleh B.J. Habibie. Di sanalah Basri menemukan arah hidupnya. Ia aktif dalam organisasi kampus dan kegiatan olahraga. Namun di balik semangat itu, kondisi ekonomi keluarga sempat menjadi penghalang.
“Saya hampir tak bisa lanjut kuliah karena tak punya biaya,” kisahnya. “Tapi waktu itu Pak Habibie memberikan saya beasiswa. Saya tidak akan pernah lupa pesan beliau: ‘Berterima kasihlah pada orang tuamu, pada bangsa dan tanah airmu.’”Tatap Basri dengan sorotan redup dan berkaca kaca
Pesan itu tertanam dalam-dalam di hati Basri. Setelah lulus, ia ditempatkan bekerja di Badan Otorita Batam lewat rekomendasi langsung dari Pak Habibie. Dari sinilah awal kariernya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dimulai.

Beberapa tahun kemudian, atas permintaan Bupati Natuna kala itu, Daeng Rusnadi, Basri diminta kembali ke tanah kelahirannya. Ia dipercaya memimpin sejumlah dinas penting seperti Dinas Pertambangan dan Energi serta Dinas Perpustakaan sebelum akhirnya menjabat sebagai Asisten II Pemkab Natuna.
Salah satu pencapaian pentingnya adalah ketika ia terlibat langsung dalam proses pengakuan Natuna sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi, yang ditetapkan melalui Permendagri Nomor 27 Tahun 2008. “Itu perjuangan panjang, tapi saya bersyukur bisa ikut memperjuangkan hak daerah,” ucapnya penuh rasa bangga.
Kini, menjelang masa purnabakti pada Maret 2026, Ia mengaku, keberhasilannya tak lepas dari dukungan sang istri tercinta, Sylvia Liliana, perempuan asal Yogyakarta yang telah menemaninya hampir 30 tahun.
“Istri saya itu sabar sekali. Dialah yang paling banyak memberi kekuatan,” katanya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Bagi Basri, hidup adalah tentang semangat dan pengabdian. Ia percaya, Sumber Daya Manusia (SDM) adalah kunci utama kemajuan Natuna. “Kalau mau membangun, jangan pikir uang dulu. Bangun manusianya,” tegasnya.
Kini, setiap kali ia berdiri di depan para generasi muda, Basri selalu mengulang pesan sederhana yang pernah ia dengar dari gurunya:
“Jangan takut bermimpi. Yang penting, berani berjuang dan tetap cinta pada tanah kelahiran.”
Sore itu, di ruang kerjanya yang sederhana, Basri tertegun sebelum menjawab pertanyaan dari jurnalis RRI dan dengan mantap ia mengatakan “Bagi saya,” ujarnya pelan, “Natuna itu bukan sekadar tempat lahir. Di sinilah hidup saya, keluarga saya, dan cinta saya untuk negeri ini.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....