Peran Komunitas Dalam Mengembangkan Bahasa Melayu

  • 29 Mar 2025 09:31 WIB
  •  Ranai

KBRN, Ranai: Bahasa Melayu merupakan salah satu bahasa yang memiliki sejarah panjang dan menjadi identitas budaya masyarakat di berbagai wilayah, khususnya di Nusantara. Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu telah digunakan sebagai bahasa dagang dan diplomasi.

Perannya semakin kuat pada masa Kesultanan Malaka, di mana bahasa ini menjadi lingua franca (Jembatan) yang digunakan untuk menghubungkan pedagang dari berbagai bangsa. Bahasa Melayu juga menjadi dasar bahasa nasional Indonesia yang ditetapkan dalam Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Sebagai bagian dari warisan budaya yang kaya, bahasa Melayu memiliki banyak dialek yang tersebar di berbagai wilayah. Perbedaan ini terlihat jelas antara Melayu daratan dan Melayu kepulauan.

Di setiap daerah bahasa melayu memiliki ciri khasnya sendiri. Namun, di tengah arus modernisasi, banyak kosakata Melayu lama yang mulai hilang akibat perubahan zaman dan semakin berkurang penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hegy Saputra, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna, menyoroti pentingnya upaya pelestarian bahasa Melayu agar tetap bertahan di tengah dominasi bahasa asing.

“Saat ini, kita melihat banyak generasi muda yang lebih akrab dengan bahasa asing di media sosial dibandingkan bahasa daerahnya sendiri. Padahal, bahasa adalah jati diri sebuah bangsa. Jika kita kehilangan bahasa, maka kita kehilangan salah satu elemen penting dari budaya kita,” ujar Hegy dalam sebuah diskusi bersamakomunitas Kompasbenua di Natuna, (25/3/2025)

Komunitas memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian bahasa Melayu melalui berbagai kegiatan, seperti diskusi, lokakarya, serta penerbitan karya sastra dan ilmiah. Salah satu komunitas yang aktif di Natuna adalah Kompasbenua (Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya Melayu Natuna), yang berupaya melestarikan budaya dan bahasa Melayu melalui berbagai aktivitas kebudayaan dan kajian sejarah lokal.

Ryannaldo, penggagas komunitas Kompasbenua, menjelaskan bahwa komunitas ini dibentuk sebagai wadah bagi masyarakat khususnya para pemuda untuk ikut serta dalam upaya melestarikan budaya dan mendalami kembali sejarah. lokal Natuna

“Kami ingin memberikan ruang bagi generasi muda agar mereka tidak hanya mengenal budaya dan sejarah Natuna, tetapi juga ikut berperan aktif dalam menjaganya. Kompasbenua hadir bukan hanya untuk mendokumentasikan, tetapi juga untuk menghidupkan kembali tradisi yang mulai terlupakan. Salah satu langkah yang kami lakukan adalah mengkaji sejarah lokal serta memperkenalkan kembali pengetahuan Melayu Natuna melalui media sosial agar lebih mudah diakses dan dipahami oleh masyarakat luas,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ryannaldo menegaskan bahwa pelestarian budaya bukanlah tugas individu semata, melainkan sebuah gerakan kolektif yang harus melibatkan banyak pihak.

“Budaya dan bahasa adalah identitas yang harus dijaga bersama. Jika kita sendiri tidak peduli, maka siapa lagi? Melalui komunitas ini, kami berharap semakin banyak anak muda yang bangga dengan warisan leluhur mereka dan mau menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari,” tambah Ryan.

Menurut kajian bahasa dan sosiologi, masyarakat dalam pengembangan bahasa Melayu dapat diringkas dalam beberapa aspek berikut:

1. Pelestarian Bahasa sebagai Identitas Budaya

Bahasa Melayu telah lama digunakan dalam perdagangan, diplomasi, dan dakwah. Sebagai lingua franca, bahasa ini menjadi alat komunikasi yang menyatukan berbagai suku dan budaya. Komunitas berperan dalam menjaga keaslian bahasa Melayu melalui kegiatan seminar kebahasaan, publikasi buku, serta program literasi agar bahasa ini tetap digunakan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

2. Media Sosialisasi Bahasa Melayu

Komunitas berfungsi sebagai platform bagi masyarakat untuk berinteraksi dan menggunakan bahasa Melayu dalam berbagai konteks. Kompasbenua, misalnya, secara rutin mengunggah bahasa Melayu Natuna setiap hari Rabu di media sosial seperti Instagram dan Facebook agar lebih mudah diakses oleh masyarakat luas. Selain itu, komunitas juga mengadakan festival bahasa dan diskusi publik guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaanbahasa Melayu.

3. Pendidikan dan Literasi

Program literasidalam komunitassangat penting untuk mengajarkan bahasa Melayu kepada generasi muda. Dengan adanya kursus bahasa dan pendampingan bagi anak-anak, komunitas dapat membantu menghidupkan kembali penggunaan bahasa Melayu dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa sekolah di Indonesia dan Malaysia bahkan telah mulai menerapkan kurikulum khusus untuk memperkenalkan kembali bahasa Melayu, terutama di daerah yang terpengaruh oleh bahasa asing.

4. Pemanfaatan Teknologi dan Media Digital

Teknologi memainkan peran besar dalam perkembangan bahasa Melayu. Komunitas dapat memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan bahasa ini, misalnya melalui pembuatan konten edukatif dalam bahasa Melayu, pengembangan aplikasi pembelajaran interaktif, serta penerjemahan materi asing ke dalam bahasa Melayu.

5. Revitalisasi Dialek dan Variasi Bahasa Melayu

Bahasa Melayu memiliki berbagai dialek yang unik di setiap daerah. Komunitas berpartisipasi dalam mendokumentasikan dan mempromosikan dialek-dialek ini agar tetap dikenal dan digunakan oleh masyarakat. Beberapa komunitas lokal bahkan telah mulai membuat kamus digital untuk menyimpan kosakata dan ungkapan khas dari berbagai dialek Melayu.

Peran komunitas dalam mengembangkan bahasa Melayu sangat signifikan dalam menjaga kelestarian bahasa ini di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi. Dengan adanya upaya kolektif dari komunitas, institusi pendidikan, serta pemerintah, bahasa Melayu akan tetap relevan dan berkembang sesuai dengan dinamika zaman.

"Jika bahasa ini ingin bertahan, kitaah yang harus selalumenjaga dan menggunakannya. Jangan sampai kita menjadigenerasi yang kehilangan jati diri karena tidak lagimengenali bahasa itu sendiri," tutup Hegy

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....