Petani Serasan Timur Rugi Jutaan akibat Banjir
- 25 Feb 2026 19:47 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - Hujan deras yang mengguyur wilayah Serasan Timur beberapa waktu lalu menyebabkan banjir dan berdampak pada lahan pertanian warga. Sejumlah petani mengalami kerugian akibat tanaman yang terendam air dan gagal panen, terutama komoditas sayur-mayur yang sebelumnya dalam kondisi siap panen.
Salah satu petani terdampak, Roziyanto, anggota Kelompok Tani Usaha Bersama di Desa Paya Waduh, Kecamatan Serasan Timur, mengungkapkan lahan miliknya seluas sekitar setengah hektare lebih terendam banjir. Ia menanam berbagai jenis sayuran seperti kacang panjang, mentimun, sawi, dan kangkung di lahan tersebut.
“Untuk sayuran yang memang sudah terendam itu tak bisa diselamatkan lagi. Mana yang masih bisa diambil kemarin sudah kami ambil, yang terbawa arus ya sudah kami ikhlaskan,” ujarnya saat di hubungi RRI (Rabu 25 Februari 2026)
Menurut Roziyanto, kerugian terbesar berasal dari tanaman sawi. Ia memiliki tujuh bedengan sawi, di mana untuksatu bedengan biasanya menghasilkan sekitar Rp800 ribu.
Jika ditotal, potensi pendapatan dari sawi saja bisa mencapai sekitar Rp5,6 juta. Potensi tersebut belum termasuk hasil dari komoditas lainnya.
Sementara untuk kacang panjang, sebagian hasil panen sebelumnya sudah diperoleh sehingga modal dinilai telah kembali. Selain sayuran, ia juga menanam jagung dan cabai melalui program subsidi pemerintah.
Tanaman cabai sebelumnya sempat gagal panen dan dialihkan ke komoditas lain. Untuk jagung yang ditanam di lokasi berbeda, ia bersyukur tidak terdampak banjir meski sempat tergenang air.
Sebelumnya, Camat Serasan Timur, Erwandi, menyampaikan bahwa banjir juga berdampak di Desa Air Ringau dan Desa Air Payak. Sekitar 10 hektare lahan pertanian terdampak, terdiri dari 5 hektare lahan sayur-mayur dan 5 hektare lahan padi yang terendam akibat luapan air setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Para petani berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah, khususnya dalam pembangunan saluran irigasi yang memadai. Saat ini, sistem pengairan di sejumlah lahan masih dilakukan secara manual, sehingga ketika curah hujan tinggi, air mudah meluap dan merendam area pertanian warga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....