Membongkar Mitos dan Fakta Bulan Safar
- 25 Jul 2025 22:41 WIB
- Ranai
KBRN, Ranai: Dalam tradisi sebagian masyarakat Muslim, bulan Safar sering dianggap sebagai bulan yang membawa kesialan, musibah, atau bencana. Pandangan ini telah diwariskan secara turun-temurun, namun perlu ditinjau kembali dengan kacamata Islam berdasarkan Al-Qur’an dan hadits.
Dalam sejarah Arab pra-Islam, bulan Safar dipercaya sebagai waktu yang kurang baik untuk bepergian atau menggelar acara penting seperti pernikahan. Kepercayaan ini kemudian terbawa ke sebagian umat Muslim, bahkan hingga hari ini masih ada yang menghindari kegiatan penting di bulan tersebut.
Namun, Islam sebagai agama yang sempurna dan rasional membantah segala bentuk takhayul dan mitos semacam ini. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada wabah menular tanpa izin Allah, tidak ada kesialan karena burung, tidak ada burung hantu pembawa sial, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari no. 5707, Muslim no. 2220)
Hadits ini dengan tegas membatalkan keyakinan bahwa bulan Safar membawa celaka. Dalam Islam, segala sesuatu terjadi atas izin Allah SWT, bukan karena mitos atau waktu tertentu yang dianggap keramat atau sial.
Ustaz Khalid Basalamah dalam salah satu kajian YouTube nya yang berjudul Benarkah Bulan Safar Membawa Sial? menjelaskan bahwa keyakinan bulan Safar sebagai bulan naas adalah bagian dari warisan jahiliyah. Menurutnya, jika keyakinan tersebut masih dipelihara, maka itu termasuk perbuatan syirik kecil karena menyandarkan takdir kepada selain Allah.
Senada dengan itu, laman Baznas.go.id juga menulis bahwa tidak ada bukti syar’i yang menyebut bulan Safar sebagai bulan sial. Justru, bulan ini seperti bulan-bulan lainnya yang bisa diisi dengan amal kebaikan seperti sedekah, doa, dan ibadah sunnah.
Sebagian masyarakat juga mengenal istilah Rebo Wekasan, yakni hari Rabu terakhir di bulan Safar yang konon diyakini sebagai waktu turunnya bala. Tradisi ini memang masih ditemukan di beberapa daerah, namun menurut para ulama seperti Syaikh Shalih al-Fauzan, keyakinan ini tidak berdasar dan tidak ada tuntunannya dalam ajaran Islam.
Islam justru mengajarkan untuk meninggalkan prasangka buruk terhadap waktu atau hari tertentu. Dalam sebuah hadits lain, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Jangan mencela waktu, karena Allah-lah yang menciptakan waktu." (HR. Muslim no. 2246)
Umat Islam seharusnya menyambut bulan ini dengan memperbanyak doa dan ibadah. Karena dalam Islam, setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah SWT.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....