Daya Pikat Kembang Semangkok

  • 31 Agt 2026 22:03 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Kantor SAR Natuna mencatat dua insiden pencarian warga yang dilaporkan hilang dan tersesat di dalam belantara hutan saat berburu buah kembang semangkok sepanjang akhir Agustus 2026. Peristiwa pertama menimpa warga di Hutan Gunung Bedung Natuna pada Senin, 24 Agustus 2026, yang kemudian disusul kejadian serupa di Hutan Dusun Dapit Jemaja Anambas pada 30 Agustus 2026.

Fenomena warga yang nekat menerobos lebatnya hutan belantara tersebut memunculkan rasa penasaran mendalam mengenai keistimewaan serta nilai dari buah hutan tersebut. Berdasarkan informasi dari laman Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, perburuan ekstrem ini dipicu oleh nilai ekonomi kembang semangkok yang terbilang sangat menjanjikan saat musim panen tiba.

Di pasaran, komoditas herbal ini mampu menembus harga jual mencapai Rp125.000 per kilogram untuk kondisi setengah kering. Sementara itu, untuk kondisi basah yang baru dipetik dari hutan, harga kembang semangkuk masih dihargai sekitar Rp95.000 per kilogram.

Selain bernilai ekonomis tinggi, tanaman dengan nama ilmiah Scaphium macropodum atau Scaphium affine ini memang sudah lama dimanfaatkan dalam dunia pengobatan tradisional Asia. Biji alami ini menjadi ramuan herbal andalan yang sangat ampuh untuk meredakan berbagai gejala yang kerap dikenal masyarakat sebagai gangguan panas dalam.

Secara fisik, bentuk biji kembang semangkok menyerupai kacang almond kering yang memiliki tekstur keras serta permukaan berkerut. Keunikan serta keajaiban biji ini baru terlihat ketika direndam menggunakan air hangat, di mana ukurannya akan mengembang pesat dan mengeluarkan gel khusus.

Merujuk pada laman medis Halodoc, biji yang dikenal internasional sebagai Malva nut atau Pang Da Hai ini kaya akan kandungan lendir alami (mucilage). Kandungan tersebut bertindak sebagai demulcent yang melapisi sekaligus menenangkan membran mukosa teriritasi akibat peradangan tenggorokan, batuk kering, sariawan, hingga suara serak.

Tingginya khasiat medis yang dipadu dengan nilai jual menggiurkan menjadi alasan utama warga meredam rasa takut untuk menjelajah hutan rimba. Namun, mengedepankan keselamatan jiwa serta kewaspadaan di alam liar tetap harus menjadi prioritas utama ketimbang sekadar mengejar keuntungan ekonomi semata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....