Wamenlu Dorong Penguatan Kapasitas Nelayan Natuna dan Replikasi Solar Ice Maker

  • 28 Agt 2026 08:39 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID. Natuna — Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno menyebut pemerintah tengah menyiapkan penguatan kapasitas nelayan Natuna seiring rencana pengadaan dan penyerahan kapal perikanan berukuran besar ke wilayah perbatasan tersebut. Arif mengatakan, program pembangunan kapal perikanan dengan berbagai ukuran merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk memperkuat sektor kelautan dan perikanan nasional, termasuk meningkatkan kemampuan nelayan di daerah kepulauan.

Program tersebut mencakup pembangunan kapal mulai dari ukuran 5 Gross Ton (GT), 10 GT, 30 GT hingga kapal dengan kapasitas di atas 30 GT. Sebagian kapal nantinya akan diarahkan untuk mendukung aktivitas perikanan di Natuna.

“Dalam konteks persiapan itu nanti akan ada kapal-kapal yang diserahkan ke Natuna,” ujar Arif saat melakukan kunjungan kerja ke Natuna, Rabu ,26 Agustus 2026.

Menurutnya, penyerahan kapal berukuran besar harus diiringi dengan peningkatan kemampuan dan keterampilan nelayan lokal agar bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Pasalnya, sebagian besar nelayan Natuna saat ini masih menggunakan kapal berukuran kecil. Arif menyebut rata-rata nelayan Natuna menggunakan kapal dengan ukuran di bawah 5 GT.

“Ini perlu penguatan kapasitas nelayan Natuna agar bisa mengoperasikan kapal-kapal besar seperti itu. Karena rata-rata nelayan Natuna menggunakan kapal di bawah 5 GT,” Ucapnya

Arif menilai kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Natuna, tetapi juga menjadi gambaran umum nelayan Indonesia. Dari sekitar 3,2 juta nelayan Indonesia, lebih dari 90 persen disebut masih menggunakan kapal dengan ukuran di bawah 5 GT. Karena itu, peningkatan kapasitas nelayan dinilai penting agar masyarakat pesisir tidak hanya menjadi penerima bantuan kapal, tetapi juga mampu mengoperasikan kapal tersebut dan meningkatkan hasil tangkapan.

Selain penguatan armada, pemerintah juga membuka peluang untuk mereplikasi program solar ice maker di Natuna. Teknologi ini merupakan sistem pembuatan es dengan memanfaatkan energi matahari. Program solar ice maker sebelumnya telah diterapkan di wilayah Maluku melalui kerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP), dan dinilai memberikan manfaat bagi nelayan dalam menjaga kualitas hasil tangkapan.

Dalam skema tersebut, pemerintah daerah menyediakan lokasi, sementara pendanaan awal program didukung lembaga internasional. Setelah berjalan, perusahaan swasta membeli dan mengoperasikan peralatan, sedangkan nelayan memperoleh akses es untuk mendukung aktivitas melaut dan pemasaran hasil tangkapan.

Arif mengatakan program percontohan di Maluku menunjukkan hasil signifikan. Sebelum program berjalan, tingkat penolakan hasil tangkapan akibat persoalan kualitas mencapai sekitar 60 persen. Setelah tersedia fasilitas penyimpanan dan es balok, tingkat penerimaan ikan meningkat hingga sekitar 99 persen, dengan produksi yang dapat mencapai 120 ton per bulan.

Melihat kondisi geografis Natuna yang memiliki karakteristik kepulauan dan jarak antarpulau, Arif menilai program tersebut berpeluang diterapkan di Natuna. Terlebih, posisi Natuna relatif dekat dengan sejumlah pasar internasional seperti Malaysia, Singapura, Korea, Jepang, dan Tiongkok, sehingga penguatan armada, rantai dingin, serta kualitas hasil tangkapan diharapkan dapat meningkatkan daya saing perikanan Natuna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....