Sinyal Flare Selamatkan Empat ABK TB AOM 787 di Anambas
- 27 Jul 2026 11:31 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID. Natuna-Peristiwa dramatis terjadi di perairan Kepulauan Anambas setelah kapal tunda TB AOM 787 terbalik akibat dihantam cuaca buruk, Sabtu 22 Juli 2026.. Empat anak buah kapal (ABK) berhasil diselamatkan Tim SAR Gabungan setelah sinyal darurat flare yang mereka nyalakan terlihat oleh kapal asing yang melintas.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Natuna, Abdul Rahman, menjelaskan TB AOM 787 berangkat dari Tanjung Balai Karimun pada Senin (21/7/2026) sore menuju Pulau Serasan, Kabupaten Natuna. Dalam perjalanan kapal sempat mengalami kendala teknis sehingga kembali untuk melakukan perbaikan sebelum melanjutkan pelayaran. Namun, pada Sabtu sekitar pukul 10.00 WIB, kapal dihantam gelombang tinggi disertai angin kencang hingga akhirnya terbalik. Seluruh kru berhasil menyelamatkan diri dengan menggunakan liferaft yang tersedia di kapal.
Di tengah kondisi darurat tersebut, para ABK berinisiatif menyalakan flare sebagai tanda meminta pertolongan. Upaya pertama belum berhasil, tetapi pada percobaan kedua cahaya suar tersebut terlihat oleh MV Shanghai Voyager berbendera Republik Korea yang sedang berlayar dari Malaysia menuju Hong Kong. Melihat sinyal tersebut, MV Shanghai Voyager segera mendekati lokasi dan mengevakuasi keempat ABK dari liferaft. Posisi kejadian berada di koordinat 02°50.060'N - 105°11.360'E.
Menurut Abdul Rahman, laporan dari MV Shanghai Voyager diteruskan kepada Basarnas dan kemudian diterima Kantor SAR Natuna melalui Basarnas Command Center pada pukul 16.40 WIB. Setelah menerima informasi, Kantor SAR Natuna langsung berkoordinasi dengan MV Shanghai Voyager untuk menentukan titik temu atau intercept. Kedua pihak sepakat melakukan pemindahan korban di koordinat 03°26.50'N - 106°14.50'E.
Proses evakuasi berlangsung lancar. Pada pukul 23.30 WIB, empat ABK berhasil dipindahkan ke Kapal Puskel Anambas oleh Tim SAR Gabungan untuk selanjutnya dibawa menuju Tarempa. Keempat korban diketahui bernama Zulkifli selaku nahkoda, serta Tawakal, Arbain, dan Dodi yang bertugas sebagai ABK. Seluruhnya merupakan warga negara Indonesia.
Setibanya di Tarempa, para korban langsung dibawa ke RSUD Tarempa untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Hasil pemeriksaan menyatakan seluruh korban dalam kondisi stabil dan selamat. Operasi penyelamatan melibatkan berbagai unsur, di antaranya Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas, Pos SAR Anambas, Polres Kepulauan Anambas, Koramil Tarempa, BPBD Anambas, dan Lanal Tarempa yang bekerja sama selama proses pencarian dan evakuasi.
Abdul Rahman mengapresiasi seluruh unsur SAR Gabungan yang bergerak cepat sehingga proses penyelamatan dapat berjalan aman. Menurutnya, koordinasi yang baik menjadi faktor penting dalam keberhasilan operasi tersebut. Ia juga mengingatkan seluruh pelaku pelayaran agar mematuhi standar keselamatan internasional sesuai Konvensi SOLAS, melengkapi kapal dengan alat keselamatan seperti flare, EPIRB, SART, serta rutin memantau informasi cuaca dari BMKG sebelum berlayar.
Dengan selesainya proses evakuasi, operasi SAR resmi ditutup. Keberhasilan penyelamatan ini menjadi pengingat bahwa kesiapan alat keselamatan, kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem, serta koordinasi yang cepat dapat menjadi penentu keselamatan jiwa di laut.
"Keberhasilan penyelamatan empat ABK TB AOM 787 menunjukkan pentingnya kelengkapan alat keselamatan di setiap kapal. Sinyal flare yang dinyalakan awak kapal menjadi faktor utama yang memungkinkan kapal lain mendeteksi posisi korban di tengah cuaca buruk." Ujar Abdur Rahman
Abdur Rahman mengatakan koordinasi cepat antara MV Shanghai Voyager, Basarnas, Kantor SAR Natuna, dan seluruh unsur SAR Gabungan patut diapresiasi karena mampu menyelamatkan seluruh korban tanpa kehilangan jiwa. Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi seluruh pelaku pelayaran agar selalu mengutamakan keselamatan, memantau informasi cuaca, serta memastikan seluruh peralatan darurat berfungsi sebelum melakukan pelayaran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....