Fase Kemarau Berpotensi Lebih Besar di Natuna jelang Lebaran
- 15 Mar 2026 23:23 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - Mendekati akhir Ramadhan dan menjelang hari raya Idul fitri 1447 Hijriah tahun ini kemungkinan frekwensi hujan di wilayah Natuna lebih kecil. Sedangkan potensi terjadinya kemarau diperkirakan akan lebih besar.
Hal tersebut di katakan prakirawan Cuaca dari BMKG Natuna, Asrul terkait dengan perkiraan kondisi cuaca yang dapat terjadi menjelang lebaran idul fitri tahun ini untuk wilayah Natuna umumnya. Menurutnya, fase kemarau akan lebih besar terjadi dibandingkan terjadinya hujan.
Bertindak sebagai Narasumber dalam dialog di RRI Ranai pada jum’at 13 Maret 2026, Ia menyebutkan dari Kepala BMKG sudah menyatakan beberapa minggu lalu bahwa di Indonesia umumnya akan terjadi masa kemarau lebih maju. Dan untuk kondisi cuaca wilayah Natuna di fase kedua ini memang ada terjadi hujan yang sifatnya hujan lokal.
“Nah untuk kondisi cuaca di fase jelang lebaran di H-1, H-2 dan H-3 kecenderungan terjadinya cuaca panas akan lebih besar di fase ketiga bulan maret ini “ Ujarnya kepada Presenter RRI Ranai Elmi Subayang.
Lebih jauh, Asrul juga tidak menampik jika sebelumnya juga ada perkiraan curah hujan yang cukup tinggi berpeluang terjadi pada lebaran idul fitri tahun ini. Dimungkinkan menurutnya ada beberapa daerah di Indonesia yang berpeluang dengan terjadinya curah hujan yang cukup tinggi.
“Ada beberapa wilayah di Indonesia yang kondisi karakter cuacanya itu sifatnya lebih tinggi dibanding daerah lainnya dan ada juga yang lebih rendah. Dengan karakter karakter itu, BMKG menyimpulkan memang kemungkinan ada daerah yang berpotensi memiliki curan hujan tinggi di saat lebaran nanti” Ujarnya menanggapi perkiraan lain dari BMKG terhadap kondisi cuaca di sebagian daerah..
Khusus untuk wilayah Natuna sendiri Asrul kembali menjelaskan bahwa intensitas hujan terendah di tahun ini terjadi pada bulan Februari, Maret dan April. Namun katanya lagi, kondisi cuaca Natuna adalah zona dengan pola ekuatorial yang artinya curah hujan sepanjang tahun.
“Nah…walaupun adanya pola hujan sepanjang tahun, kita tidak bisa menunjukan kapan musim penghujan dan kapan musim kemarau. Tapi kita mengetahui disetiap bulannnya itu dapat terjadi satu atau dua kali atau lebih dari tiga kali” Ujarnya menjelaskan lebih lanjut.
| Baca juga: Damkar Evakuasi Monyet di Senubing |
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....