Geologi dan Cerita Panjang Bumi Indonesia
- 20 Feb 2026 14:43 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - Ilmu geologi kerap disederhanakan sebagai kajian tentang batuan. Padahal, disiplin ini memegang peran penting dalam membaca sejarah bumi sekaligus memprediksi risikonya di masa depan. Hal tersebut disampaikan Dr. Sc. Rinaldi Ikhram, ST., MT., pakar geologi lulusan Akita University, Jepang, dalam perbincangan di kanal YouTube Abdel Achrian. Menurutnya, pemahaman geologi menjadi sangat relevan bagi Indonesia yang berada di kawasan aktif tektonik Ring of Fire.
Dalam penjelasannya, Dr. Rinaldi menguraikan konsep Sundaland, yakni daratan luas purba yang dahulu menyatukan Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Keberadaan daratan ini menjadi kunci untuk memahami kesamaan flora dan fauna di wilayah tersebut, karena pada masa lampau kawasan itu belum terpisah oleh laut seperti saat ini.
Ia juga menekankan bahwa secara geologi, Indonesia tergolong wilayah yang relatif muda.
“Indonesia itu secara geologi relatif muda. Dulu, saat zaman dinosaurus, sebagian besar wilayah kita masih berupa lautan. Itulah alasan mengapa fosil dinosaurus raksasa jarang ditemukan di sini dibandingkan di daratan tua seperti Amerika atau Cina,” jelas Dr. Rinaldi.
Kondisi ini menjelaskan mengapa jejak kehidupan purba darat berskala besar lebih banyak ditemukan di benua-benua tua.
Fakta geologi lain yang kerap mengundang rasa heran adalah ditemukannya fosil kerang dan organisme laut di puncak-puncak pegunungan tinggi, seperti di Pegunungan Jayawijaya di Papua maupun Himalaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan dasar laut yang kemudian terangkat ke permukaan akibat proses tektonik berskala raksasa.
Pengangkatan daratan tersebut terjadi melalui tabrakan antar-lempeng tektonik yang berlangsung selama jutaan tahun. Tekanan yang terus-menerus menyebabkan kerak bumi terlipat dan terdorong ke atas, hingga membentuk pegunungan tinggi yang kita kenal saat ini.
Dr. Rinaldi juga membedakan secara tegas proses pembentukan gunung berapi dan pegunungan non-berapi. Gunung berapi terbentuk melalui mekanisme subduksi, ketika lempeng samudera menyusup ke bawah lempeng benua, mencair menjadi magma, lalu naik ke permukaan. Sementara itu, pegunungan non-berapi terbentuk akibat tumbukan langsung antar-benua (collision), seperti yang terjadi di Papua dan Himalaya.
Dalam konteks Indonesia, literasi geologi menjadi kebutuhan mendesak. Pergerakan lempeng tektonik yang hanya beberapa sentimeter per tahun dapat menyimpan energi besar, yang jika dilepaskan secara tiba-tiba berpotensi memicu gempa bumi atau tsunami.
“Geologi bukan cuma soal tambang atau minyak (petroleum), tapi juga soal mitigasi bencana dan pemanfaatan sumber daya air tanah. Memahami geologi berarti memahami rumah kita sendiri,” tambah, Dr.SC Rinaldi. Pernyataan ini menegaskan bahwa geologi bukan sekadar ilmu masa lalu, melainkan panduan penting untuk hidup berdampingan secara aman dengan dinamika bumi Indonesia.
Page break
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....