BMKG Natuna Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Karhutla hingga September 2026

  • 25 Agt 2026 08:07 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID. Natuna – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Natuna mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Peringatan tersebut disampaikan Kepala BMKG Natuna Rafael Alesandro Marbun dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Kekeringan dan Karhutla di Kantor Bupati Natuna, Bukit Arai, Senin ,24 Agustus 2026.

Rafael menyampaikan, peringatan dini kekeringan meteorologis di wilayah Natuna saat ini berada pada kategori waspada. Kondisi tersebut dipengaruhi rendahnya curah hujan dan dinamika atmosfer.

Menurut Rafael, curah hujan sepanjang Agustus 2026 secara umum mengalami penurunan dibandingkan Juli dan berada dalam kategori rendah. Kondisi kering ini diprakirakan masih bertahan hingga akhir September 2026.

Ia memperkirakan curah hujan mulai meningkat pada awal Oktober dan semakin meningkat pada November dengan kategori menengah hingga tinggi. Namun, curah hujan tersebut diperkirakan masih sedikit di bawah kondisi normal.

BMKG Natuna juga mencatat kondisi Hari Tanpa Hujan atau HTH di sejumlah wilayah. Sebagian besar wilayah Pulau Bunguran mengalami HTH kategori menengah, yakni sekitar 15 hingga 18 hari.

Kondisi lebih ekstrem terjadi di sejumlah wilayah, seperti Pulau Laut dan Bunguran Selatan, khususnya Cemaga. HTH di wilayah tersebut masing-masing mencapai 21 dan 22 hari, bahkan belum tercatat mengalami hujan sepanjang Agustus 2026. Hal tersebut tersebut semakin perlu diwaspadai karena hasil monitoring hotspot selama 24 jam terakhir menunjukkan BMKG mendeteksi tiga titik panas di wilayah Kabupaten Natuna.

Rafael mengatakan faktor atmosfer juga menjadi perhatian, terutama kondisi ENSO positif atau El Nino yang sangat kuat. Fenomena tersebut dinilai berpotensi memperkuat kondisi kering dan mengurangi curah hujan selama musim kemarau.

Ia meminta perkembangan kondisi atmosfer dan cuaca terus dipantau. Masyarakat juga diingatkan tidak menganggap remeh kondisi lahan yang semakin kering karena percikan api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran.

“Pemantauan dan upaya pencegahan perlu ditingkatkan, khususnya di wilayah yang sering mengalami kejadian karhutla,” Ujar Rafael.

Selain ancaman kebakaran lokal, BMKG Natuna juga mengingatkan potensi pengaruh asap dari kebakaran hutan di Kalimantan. Arah angin berpotensi membawa asap menuju wilayah Natuna sehingga perkembangan sebarannya perlu terus dipantau.

Jika kondisi tersebut terjadi, asap dapat berdampak terhadap kualitas udara, mengganggu kesehatan masyarakat serta mengurangi jarak pandang. Karena itu, informasi cuaca menjadi bagian penting dalam mendukung kesiapsiagaan menghadapi kondisi ekstrem.

BMKG Natuna menekankan pentingnya pemantauan cuaca, hotspot, arah angin dan perkembangan curah hujan secara berkelanjutan. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah dan masyarakat mengambil tindakan pencegahan lebih cepat dalam menghadapi ancaman kekeringan dan karhutla.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....