Dolar AS Menguat, Pengamat Ekonomi Purwokerto Imbau Masyarakat Tidak Panik

  • 03 Jun 2026 10:40 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah belakangan ini menjadi perhatian masyarakat karena dinilai dapat berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi sehari-hari. Pengamat ekonomi Purwokerto, Prof. Dr. Ade Banani, M.M.S, menyebut penguatan dolar dipengaruhi berbagai faktor global maupun domestik yang saling berkaitan.

Prof. Ade menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang menyebabkan dolar AS menguat adalah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat yang meningkat. Selain itu, ketidakpastian ekonomi global dan situasi geopolitik juga turut mendorong investor lebih memilih dolar AS sebagai aset aman.

“Pengaruh dolar menguat itu ada beberapa faktor, baik global maupun domestik. Kita melihat adanya kenaikan tingkat bunga Amerika Serikat, ketidakpastian global dan geopolitik, hingga faktor ekonomi dalam negeri seperti utang luar negeri berbasis dolar dan inflasi,” katanya.

Menurutnya, perubahan nilai tukar mata uang tidak hanya menjadi isu ekonomi makro, tetapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Sebab, nilai tukar rupiah terhadap dolar berpengaruh pada harga barang, biaya produksi, inflasi, hingga kondisi ketenagakerjaan.

“Exchange rate atau nilai tukar itu menentukan kehidupan masyarakat karena bisa memengaruhi harga barang, biaya produksi, inflasi, employment, dan sebagainya,” ucap Ade.

Ia juga menambahkan, bahwa sektor industri manufaktur menjadi salah satu bidang yang paling rentan terdampak ketika dolar AS terus menguat, terutama industri yang masih mengandalkan bahan baku impor. Kenaikan kurs dolar berpotensi membuat biaya produksi meningkat sehingga berdampak pada harga jual barang di pasaran.

Terkait apakah kondisi penguatan dolar akan berlangsung lama, Prof. Ade menilai hal tersebut bergantung pada penyebabnya. Jika dipicu faktor siklikal seperti kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), kondisi bisa kembali normal ketika kebijakan berubah.

Namun, jika faktor struktural lebih dominan, dampaknya dapat berlangsung lebih panjang.

“Kalau faktor siklikal, misalnya karena The Fed menaikkan suku bunga, ketika bunga turun bisa kembali normal. Tetapi kalau faktor struktural karena dolar digunakan hampir semua negara untuk transaksi dan safe haven, maka dampaknya bisa lebih lama,” katanya kembali.

Di sisi lain, Prof. Ade meminta masyarakat tidak panik menghadapi kondisi tersebut. Ia mendorong pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi, keuangan, serta sosial politik agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Menurutnya, pemerintah juga perlu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan anggaran dan menjalankan efisiensi belanja, terutama mengurangi pengeluaran yang dinilai tidak mendesak.

“Ini peristiwa yang tidak bisa dihindari, sehingga masyarakat jangan panik. Pemerintah harus menjaga stabilitas dan meminimalisir dampaknya. Efisiensi harus dijalankan, baik oleh pemerintah, pengusaha, maupun masyarakat,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....