TPST BLE Banyumas Kembangkan Produk Bernilai Ekonomi Lewat Sampah
- 22 Mei 2026 15:06 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas kini tidak lagi sekadar berfokus pada pembuangan limbah, tetapi mulai diarahkan menjadi sumber ekonomi baru. Melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE), sampah residu diolah menjadi berbagai produk bernilai jual guna mendukung target Banyumas Bebas Sampah 2028.
Kepala UPT TPST BLE Banyumas, Edy Nugroho, mengatakan konsep pengelolaan sampah di Banyumas saat ini mengedepankan prinsip pemanfaatan kembali residu yang tidak lagi dapat diolah di tingkat masyarakat maupun kelompok swadaya masyarakat (KSM). Sebab, Banyumas tidak menggunakan sistem Tempat Pembuangan Akhir (TPA) konvensional.
Sebagai gantinya, seluruh sampah yang masuk ke TPST BLE diupayakan untuk diproses menjadi produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi. “Sampah yang tidak bisa diolah masyarakat kami coba selesaikan menjadi berbagai produk,” ujar Edy.
Salah satu produk unggulan yang saat ini dihasilkan ialah Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif pengganti batu bara. Produk ini telah dikerjasamakan dengan dua pabrik semen sebagai bahan bakar industri.
Tak hanya bahan bakar, sampah plastik juga diolah menjadi bahan bangunan seperti paving block dan genteng plastik. Produk tersebut bahkan telah diterapkan di sejumlah titik di Kabupaten Banyumas, salah satunya kawasan Jalan Bung Karno.
Di sektor energi, TPST BLE juga memanfaatkan sampah organik menjadi SRF dan BPJP yang digunakan sebagai bahan bakar di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Selain itu, kawasan TPST BLE turut menjadi lokasi edukasi melalui pengembangan budidaya maggot, yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan bagian dari ekosistem pengelolaan sampah organik.
Setiap hari, TPST BLE Banyumas menerima sekitar 160 hingga 200 ton sampah. Dari jumlah tersebut, RDF menjadi produk dominan dengan kapasitas produksi mencapai 80 ton per hari.
Untuk memperluas manfaat ekonomi dari pengolahan sampah, TPST BLE Banyumas juga menyiapkan inovasi baru. Pada 2026 ini, pihaknya menjajaki kerja sama dengan investor asal Ipoh, Malaysia, guna mengembangkan produksi biji plastik KW2 yang nantinya dapat diolah menjadi produk turunan seperti palet dan lantai berbahan plastik.
Selain itu, dukungan pemerintah pusat juga mulai mengalir. Kementerian Pekerjaan Umum disebut tengah menyiapkan pengembangan fasilitas TPST BLE dengan nilai anggaran sekitar Rp34 miliar yang saat ini masih dalam proses lelang.
Pengembangan tersebut diharapkan semakin memperkuat target Banyumas menuju konsep “Zero Waste to Money”. Yakni pengelolaan sampah yang tidak hanya menekan volume limbah, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi dari sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Meski memiliki prospek besar, pengelolaan sampah di TPST BLE masih menghadapi tantangan. Seperti gangguan mesin pengolah serta faktor cuaca hujan yang memengaruhi kualitas hasil produksi, terutama bahan bakar alternatif yang harus memenuhi standar kadar air tertentu.
Dengan pengembangan teknologi dan kerja sama investasi, Banyumas optimistis mampu mewujudkan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan sekaligus menjadi contoh daerah tanpa TPA konvensional di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....