Tangani 15 Ribu ATS, Banyumas Verifikasi Ulang Data ke Kecamatan
- 23 Apr 2026 21:01 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Akurasi data dinilai menjadi instrumen penting dalam menangani persoalan anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Banyumas. Menurut data yang diperoleh Dinas Pendidikan (Dindik), hingga awal 2026, jumlah ATS di Banyumas mencapai 15.458 anak dan menjadi fokus penanganan.
Namun, data tersebut masih bersifat awal dan belum sepenuhnya akurat. Dari hasil pengecekan di lapangan, ditemukan tidak semua anak yang tercatat benar-benar putus sekolah.
Oleh karena itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas melakukan sejumlah langkah. Salah satunya dengan memverifikasi ulang data ATS hingga ke tingkat kecamatan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas Amrin Ma’ruf menyampaikan bahwa proses verifikasi ulang ini melibatkan para penilik dari Koordinator Wilayah Kecamatan (Korwilcam) Dindik se-Kabupaten Banyumas.
Data yang diperoleh nantinya akan digunakan untuk menentukan langkah intervensi selanjutnya, termasuk penanganan ATS dengan kasus-kasus tertentu, seperti permasalahan ekonomi, serta keterbatasan fisik dan mental. Dinas Pendidikan Banyumas juga akan mengedepankan skema jemput bola agar penanganannya lebih tepat sasaran.
“Dari data verifikasi itu, nanti akan kami lihat sasarannya, lokasinya di mana, terus siapa nanti yang akan melakukan intervensi, apakah sekolah umum atau PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat),” tutur Amrin kepada RRI usai kegiatan penandatanganan komitmen bersama penanganan ATS Kabupaten Banyumas di Pendopo Si Panji Purwokerto, Kamis (23/4/2026).
Sejauh ini, sudah ada beberapa kecamatan yang telah merampungkan verifikasi ulang data ATS, yaitu Kecamatan Banyumas, Gumelar, Pekuncen, Purwojati, dan Tambak. Dalam waktu dekat, Dindik Banyumas akan meninjau Desa Watuagung yang menjadi wilayah dengan ATS terbanyak di Kecamatan Tambak.
“Di Tambak, dari 400 sekian, ditemukan hanya 177 anak yang benar-benar berstatus ATS setelah dilakukan verifikasi. Terbanyak ada di Desa Watuagung, 140 anak. Tanggal 28 (April) nanti kami jemput bola ke sana,” ucap Amrin.

Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menegaskan bahwa penanganan anak tidak sekolah tidak bisa dilakukan sendiri oleh satu instansi. Ia menyebut sinergi lintas sektor menjadi kunci agar anak-anak bisa kembali mengakses pendidikan.
Lewat program Pasti Sekolah, Bupati menginstruksikan para camat untuk mengoptimalkan peran tim percepatan penanganan ATS, yang sudah dibentuk sejak tahun lalu di masing-masing kecamatan, untuk melakukan pendataan. Dengan data yang semakin valid, pemerintah daerah dapat sekaligus memetakan faktor penyebab anak-anak tidak sekolah.
“Saya juga mendorong agar para camat menugaskan para lurah dan kepala desa untuk turut serta melakukan identifikasi dan verifikasi data secara langsung karena yang paling memahami kondisi warganya adalah pemerintah di tingkat desa,” ujar Sadewo.
Sadewo optimistis angka anak tidak sekolah bisa turun signifikan dengan sinergi, komitmen, dan kerja nyata semua pihak. Upaya ini dinilai penting untuk memastikan tidak ada satu pun anak di Banyumas yang tertinggal dari akses pendidikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....