Layanan Kesehatan Jiwa Kian Mudah Diakses, Stigma Masyarakat Jadi Tantangan

  • 19 Jun 2026 14:30 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Akses layanan kesehatan jiwa di wilayah Banyumas Raya terus mengalami perkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah daerah dinilai semakin memberikan perhatian terhadap pelayanan kesehatan mental, ditandai dengan bertambahnya fasilitas layanan kesehatan jiwa di berbagai rumah sakit umum daerah (RSUD) di wilayah Barlingmascakeb.

Wakil Kepala Instalasi Pelayanan Kesehatan Jiwa Terpadu RSUD Banyumas, Agus Riyadi, S.Kep., Ns, mengatakan perkembangan layanan kesehatan jiwa di Banyumas mengalami peningkatan signifikan, terutama dalam satu dekade terakhir.

Menurutnya, jika dahulu layanan kesehatan jiwa masih sangat terbatas dan hanya tersedia di beberapa fasilitas kesehatan tertentu, kini hampir seluruh rumah sakit pemerintah di kawasan Banyumas Raya telah membuka layanan serupa.

“Kalau dulu layanan kesehatan jiwa masih sangat sederhana. Namun dalam 10 tahun terakhir perhatian pemerintah daerah, khususnya di Banyumas, luar biasa. Sekarang pusat layanan kesehatan jiwa semakin banyak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selain di RSUD Banyumas, layanan kesehatan jiwa kini juga tersedia di sejumlah rumah sakit lain seperti RSUD Ajibarang, RSUP Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, serta rumah sakit swasta di wilayah Banyumas. Bahkan, rumah sakit di Banjarnegara dan Purbalingga juga telah menyediakan layanan serupa.

Menurut Agus, kondisi tersebut membuat keterjangkauan layanan kesehatan jiwa bagi masyarakat menjadi semakin baik, termasuk bagi warga di wilayah pinggiran maupun pedesaan.

“Hampir semua RSUD di wilayah Barlingmascakeb sekarang sudah melayani kesehatan jiwa. Artinya masyarakat lebih mudah menjangkau layanan dan semakin banyak yang bisa ter-cover,” katanya.

Agus menegaskan bahwa layanan kesehatan jiwa di Banyumas dapat diakses oleh seluruh kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia (lansia). Hal ini karena persoalan kesehatan mental kini tidak lagi hanya dialami orang dewasa, melainkan juga mulai banyak ditemukan pada kelompok usia muda maupun lansia.

“Sekarang tren gangguan jiwa tidak seperti dulu. Anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia semuanya bisa mengalami masalah kesehatan jiwa, sehingga semua kalangan dapat mengakses layanan kami,” katanya kembali.

Di RSUD Banyumas, pelayanan kesehatan jiwa disebut telah dirancang secara komprehensif sesuai kebutuhan masing-masing kelompok usia. Penanganan gangguan kesehatan mental pada anak, misalnya, memiliki pendekatan berbeda dibanding pasien dewasa atau lansia.

Meski akses layanan semakin luas, Agus mengakui masih terdapat sejumlah kendala yang dihadapi masyarakat dalam memanfaatkan layanan kesehatan jiwa. Salah satu persoalan terbesar adalah masih kuatnya stigma negatif terhadap gangguan mental.

Ia menilai sebagian masyarakat masih memandang gangguan jiwa sebagai persoalan yang memalukan atau dianggap sepele, sehingga keluarga kerap terlambat membawa pasien ke fasilitas kesehatan.

“Banyak yang baru dibawa berobat ketika kondisi sudah berat, misalnya pasien sudah mengamuk atau membahayakan lingkungan. Padahal seharusnya sejak awal sudah mendapat layanan supaya bisa ditangani lebih cepat,” ujarnya.

Selain stigma, kendala lain yang masih sering ditemui adalah persoalan akses transportasi, terutama bagi pasien yang tinggal di wilayah terpencil. Walaupun biaya pengobatan dapat ditanggung melalui BPJS Kesehatan, biaya perjalanan menuju rumah sakit sering kali menjadi hambatan bagi keluarga pasien.

“Obat mungkin gratis karena menggunakan BPJS, tetapi untuk datang ke rumah sakit perlu biaya transportasi. Ini yang kadang memberatkan keluarga, terutama dari wilayah jauh,” ucap Agus.

Karena itu, Agus berharap penanganan kesehatan jiwa di Banyumas tidak hanya menjadi tanggung jawab rumah sakit semata, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, dinas kesehatan, dinas sosial, aparat keamanan, hingga masyarakat.

Dengan dukungan lintas sektor, diharapkan layanan kesehatan jiwa di Banyumas dapat semakin mudah dijangkau serta mampu mengurangi stigma negatif. Sehingga masyarakat lebih cepat mencari pertolongan ketika mengalami gangguan kesehatan mental.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....