Kick Off Proyek I-SEE, Jateng Perkuat Layanan Kesehatan Mata yang Inklusif
- 07 Jul 2026 13:48 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) dan CBM Global Disability Inclusion resmi meluncurkan Proyek Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE) di Hotel Elsotel Purwokerto, Selasa (7/7/2026). Program yang didukung Australian Aid ini akan berlangsung selama lima tahun, mulai Mei 2026 hingga April 2031, untuk memperkuat sistem layanan kesehatan mata yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan.
Sebagai tahap awal, proyek I-SEE difokuskan di tiga kabupaten, yakni Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo. Ketiga daerah tersebut dipilih sebagai wilayah percontohan yang diharapkan menjadi model pengembangan layanan kesehatan mata bagi kabupaten lain di Jawa Tengah.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr. Zulfachmi Wahab, Sp.PD, Subsp.H.Onk.M (K), FINASIM, mengatakan angka gangguan penglihatan akibat katarak di Jawa Tengah masih cukup tinggi. Berdasarkan data yang dimiliki, prevalensi katarak mencapai sekitar 2,4 persen, sementara sekitar 80 persen kasus kebutaan disebabkan oleh katarak.
"Sebagian besar kasus sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat memperoleh informasi yang benar dan dilakukan deteksi dini. Karena itu edukasi menjadi bagian yang sangat penting," ujarnya.

Menurut Zulfachmi, Dinas Kesehatan Jawa Tengah akan memperkuat pelaksanaan program melalui empat lini. Pertama, pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan promosi kesehatan dan deteksi dini gangguan mata. Kedua, penguatan layanan di puskesmas agar mampu menemukan kasus lebih awal. Ketiga, memastikan rumah sakit memberikan pelayanan rujukan secara cepat sehingga tidak terjadi keterlambatan penanganan. Keempat, memperkuat monitoring dan evaluasi agar seluruh program berjalan efektif.
Ia menjelaskan, selain katarak, gangguan penglihatan juga dapat disebabkan oleh retinopati diabetik akibat diabetes, glaukoma, hingga kelainan bawaan sejak lahir. Namun demikian, katarak masih menjadi penyebab terbanyak, terutama pada kelompok usia di atas 50 tahun.
Sementara itu, Country Director CBM Global Indonesia, Marisa Kristianah, menegaskan bahwa aspek utama yang membedakan proyek I-SEE dengan program kesehatan lainnya adalah pendekatan inklusivitas bagi penyandang disabilitas.
Menurutnya, dalam pelaksanaan program, pihaknya akan bekerja sama dengan organisasi penyandang disabilitas untuk melakukan penilaian terhadap fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit, guna memastikan seluruh layanan dapat diakses oleh semua kalangan.
"Kami ingin memastikan layanan kesehatan mata tidak hanya berkualitas, tetapi juga benar-benar dapat diakses oleh semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Fasilitas seperti jalur landai, toilet yang aksesibel, dan sarana pendukung lainnya akan menjadi bagian dari penilaian," kata Marisa.
Direktur Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK), Iwan Setiyoko, menjelaskan pemilihan Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo sebagai wilayah percontohan didasarkan pada hasil asesmen kebutuhan yang dilakukan sebelumnya.
"Hasil kajian menunjukkan ketiga daerah memiliki kebutuhan yang cukup tinggi terkait gangguan kesehatan mata. Selain itu, pemerintah daerah di tiga kabupaten tersebut juga menunjukkan komitmen dan kesiapan untuk berkolaborasi dalam pelaksanaan program," ujarnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan mitra internasional, Proyek I-SEE diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan mata sekaligus menurunkan angka kebutaan yang dapat dicegah di Jawa Tengah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....