Apakah Gula Aren Lebih Sehat dari Gula Putih? Ini Fakta Sesungguhnya

  • 17 Jun 2026 08:04 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Minuman berbahan gula aren, mulai dari kopi susu kekinian hingga aneka ragam minuman tradisional, kian populer dalam beberapa tahun terakhir. Rasa manisnya yang khas membuat sebagian besar masyarakat mempersepsikan gula aren sebagai pemanis alami yang jauh lebih sehat dan aman dibandingkan dengan gula putih biasa. Namun, benarkah konsumsi minuman gula aren bebas dari risiko kesehatan?

Mengutip laman resmi Kementrian Kesehatan RI disebutkan bahwa gula aren memang diproduksi secara tradisional dari rebusan nira pohon aren dengan proses pengolahan yang minim. Hal ini membuat gula aren masih mempertahankan sejumlah kandungan mineral seperti kalium, magnesium, dan zat besi dalam jumlah kecil. Walau demikian, keunggulan nutrisi ini tidak serta-merta membuatnya bebas risiko jika dikonsumsi secara berlebihan.

Fakta medis menunjukkan bahwa komponen utama dari gula aren tetaplah sukrosa. Walaupun memiliki indeks glikemik yang sedikit lebih rendah daripada gula pasir, perbedaannya tidak terlalu signifikan. Minuman dengan campuran gula aren tetap dapat memicu lonjakan kadar gula darah secara instan, terutama bagi penderita diabetes atau individu dengan kondisi resistensi insulin.

Konsumsi gula yang tidak terkontrol juga berkontribusi langsung terhadap kenaikan berat badan. Minuman manis umumnya tinggi kalori tetapi rendah rasa kenyang, sehingga memicu seseorang mengonsumsi kalori berlebih tanpa disadari.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko obesitas yang menjadi pintu masuk bagi penyakit kronis seperti jantung koroner, hipertensi, dan diabetes tipe 2.

Masih menurut artikel ini, hal lain yang perlu diwaspadai masyarakat adalah keaslian dan campuran menu minuman di pasaran. Banyak produk kopi susu gula aren saat ini yang tidak lagi murni, melainkan sudah ditambahkan dengan krimer, sirup, atau susu tinggi lemak. Kombinasi bahan-bahan tersebut dapat mengubah segelas minuman santai menjadi "bom kalori" yang membahayakan kesehatan jika dikonsumsi harian.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar asupan gula tambahan tidak melebihi 10 persen dari total kalori harian, bahkan idealnya di bawah 5 persen untuk manfaat kesehatan yang optimal. Sayangnya, satu porsi minuman kekinian berukuran besar sering kali sudah melampaui batas aman tersebut.

Dibagian lain artikel ini disebutkan bahwa para ahli gizi menyebutkan bahwa gula aren tidak perlu dimusuhi secara mutlak, karena kunci utamanya terletak pada jumlah dan frekuensi konsumsi. Untuk tetap bisa menikmati kesegaran minuman gula aren tanpa mengorbankan kesehatan, masyarakat diimbau menerapkan beberapa langkah cerdas berikut:

  • Memilih ukuran porsi (size) minuman yang lebih kecil.

  • Meminta pengurangan kadar manis (less sugar) saat memesan di kedai minuman.

  • Membatasi frekuensi konsumsi, misalnya menjadikannya sebagai hadiah mingguan (weekly treat), bukan sebagai konsumsi harian.

  • Membiasakan diri membaca label informasi nilai gizi pada produk minuman kemasan.

  • Membuat sendiri minuman di rumah agar takaran gula, susu rendah lemak, dan bahan lainnya dapat dikontrol secara mandiri.

Pada akhirnya, prinsip pemenuhan gizi yang baik adalah keseimbangan. Memahami kandungan dan dampak dari apa yang dikonsumsi akan membantu masyarakat tetap dapat menikmati minuman favorit dengan cara yang lebih bijak dan aman bagi tubuh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....