dr. Choirul Mufied Ingatkan Pemanis Buatan Ibarat Pisau Bermata Dua

  • 18 Jun 2026 07:39 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Penggunaan pemanis buatan kini menjadi tren dan asupan harian yang populer bagi pelaku diet maupun penderita diabetes mellitus yang ingin tetap menikmati rasa manis tanpa takut kalori tinggi. Namun, anggapan bahwa pemanis buatan sepenuhnya lebih sehat dibandingkan gula alami ternyata perlu dikritisi kembali agar tidak menimbulkan salah kaprah.

Saat menjawab pertanyaan pendengar dalam acara Dialog Kesehatan di Pro 1 RRI Purwokerto selasa pekan lalu, dr. Choirul Mufied menegaskan bahwa konsumsi pemanis buatan sejatinya ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi zat ini mampu membantu memangkas glukosa, namun di sisi lain berpotensi memicu masalah kesehatan baru jika dikonsumsi sembarangan.

"Pemanis buatan seperti sakarin, aspartam, sukralosa, hingga yang berbahan alami seperti stevia memang tidak menaikkan gula darah secara drastis karena bukan kelompok karbohidrat. Tetapi, jika dikonsumsi berlebihan, efek sampingnya bisa memicu perut kembung, sering buang gas, diare, hingga membuat tubuh justru menjadi mudah lapar," ujar dr. Mufied.

Dalam siaran tersebut, dr. Mufied memaparkan bahwa lembaga internasional seperti The European Food Safety Authority telah menetapkan batas aman konsumsi. Sebagai contoh, untuk jenis pemanis aspartam, orang dewasa dengan berat badan rata-rata 70-kilogram maksimal mengonsumsi 40 sendok teh per hari, sementara anak-anak dengan berat 23-kilogram dibatasi maksimal 13 sendok teh saja.

Meski begitu, dr. Mufied mengingatkan bahwa ada kelompok masyarakat tertentu yang sama sekali tidak boleh menyentuh pemanis buatan. Mereka adalah anak-anak di bawah usia tiga tahun serta penderita kelainan genetis langka fenilketonuria.

Lebih lanjut, dr. Choirul Mufied meminta masyarakat untuk lebih jeli terhadap produk minuman olahan yang beredar di pasaran, seperti soda diet. Merujuk pada data ilmiah dari American Diabetes Association, konsumsi soda diet secara rutin yang mengandung pemanis buatan justru terbukti meningkatkan risiko sindrom metabolik sebesar 36 persen dan melonjakkan risiko diabetes tipe 2 hingga 67 persen lebih tinggi.

"Masyarakat harus paham bahwa label 'bebas gula' atau sugar free pada makanan dan minuman kemasan itu bukan berarti bebas kalori. Berat badan Anda akan tetap naik jika mengonsumsinya berlebihan, karena ada zat gizi lain di dalam produk olahan tersebut yang menyumbang kalori tinggi," ungkap dr. Mufied.

Di akhir sesi dialog, dr. Mufied mengimbau warga Banyumas dan sekitarnya untuk tetap memprioritaskan sumber manis alami yang jauh lebih kaya nutrisi, seperti yang terkandung dalam buah-buahan dan sayuran segar. Pemanis buatan boleh dijadikan alternatif penunjang, asalkan tetap dikontrol ketat sesuai dosis dan tidak dijadikan sebagai kebiasaan konsumsi harian jangka panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....