Waspada, Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Diabetes dan Hipertensi

  • 17 Jun 2026 08:10 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Kurang tidur kini menjadi masalah kesehatan yang kian marak di era modern akibat gaya hidup sibuk, stres, dan paparan gawai yang berlebihan. Tidak sekadar memicu kelelahan dan menurunkan produktivitas, kebiasaan buruk ini ternyata berdampak serius pada kesehatan jangka panjang, termasuk memicu risiko diabetes tipe 2 dan hipertensi.

Dilansir dari laman KlikDokter, Tim Konten Medis telah berdiskusi dengan dr. Atika untuk membedah secara rinci bagaimana gangguan pola tidur dapat memicu kedua penyakit kronis tersebut.

Tidur merupakan proses alami tubuh untuk melakukan pemulihan jaringan, konsolidasi memori, serta mengatur metabolisme. Untuk orang dewasa, durasi tidur yang ideal adalah 7 hingga 9 jam per malam. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, fungsi optimal tubuh akan terganggu.

Kurang tidur dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 melalui beberapa mekanisme biologis. Salah satunya adalah memicu resistensi insulin, yaitu kondisi saat sel-sel tubuh tidak merespons hormon insulin dengan baik untuk menyerap glukosa menjadi energi. Akibatnya, kadar gula darah akan melonjak.

Selain itu, waktu istirahat yang tidak cukup mengganggu keseimbangan hormon pengatur nafsu makan. Hormon ghrelin (pemicu lapar) akan meningkat, sementara hormon leptin (penekan nafsu makan) justru menurun. Kondisi ini mendorong seseorang mengonsumsi lebih banyak makanan tinggi karbohidrat dan gula.

Kurang tidur kronis juga memicu peradangan sistemik yang dapat merusak sel-sel pankreas penghasil insulin, serta mengganggu metabolisme glukosa secara keseluruhan. Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal "Diabetes Care", individu yang tidur kurang dari 6 jam per malam terbukti memiliki risiko yang jauh lebih tinggi terkena resistensi insulin dan diabetes tipe 2.

Tak hanya gula darah, kurang tidur juga berkontribusi besar pada perkembangan hipertensi atau tekanan darah tinggi. Kondisi kurang rehat ini dapat mengaktifkan sistem saraf simpatik (fight or flight), yang memicu peningkatan denyut jantung dan penyempitan pembuluh darah.

Saat tubuh kekurangan tidur, kadar hormon stres kortisol juga akan meningkat. Dalam jangka panjang, tingginya kortisol mengganggu keseimbangan garam dan air di dalam tubuh, sehingga tekanan darah ikut meroket.

Mekanisme lainnya adalah terganggunya ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Hal ini menyebabkan tekanan darah tetap tinggi pada malam hari dan merusak dinding pembuluh darah akibat peradangan sistemik, yang berujung pada kekakuan arteri.

Sebuah penelitian dalam "Journal of Clinical Sleep Medicine" mempertegas bahwa orang yang tidur kurang dari 6 jam per malam memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap hipertensi dibandingkan mereka yang tidurnya tercukupi. Guna meminimalisasi risiko diabetes dan hipertensi, dr. Atika melalui KlikDokter menyarankan masyarakat untuk mulai memperbaiki kualitas tidur. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:

  1. Menjaga jadwal tidur yang konsisten setiap hari.

  2. Menciptakan lingkungan kamar tidur yang tenang dan nyaman.

  3. Menghindari konsumsi kafein dan alkohol menjelang waktu tidur.

  4. Mengelola stres dengan baik.

Melalui langkah-langkah sederhana tersebut, kesehatan tubuh secara keseluruhan dapat tetap terjaga sekaligus menjauhkan diri dari ancaman penyakit kronis.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....