Bahaya Obesitas Sebagai Komorbid Berbagai Penyakit Kronis Berbahaya

  • 17 Jun 2026 08:05 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Obesitas atau penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh bukan sekadar masalah penampilan estetika, melainkan sebuah kondisi medis serius yang dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Secara klinis, seseorang dikategorikan mengalami obesitas apabila nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) telah mencapai angka 30 atau lebih.

Saat menjadi narasumber dalam program Dialog Kesehatan di Pro 1 RRI Purwokerto beberapa waktu lalu, dr. Choirul Mufied menjelaskan bahwa salah satu aspek yang paling berbahaya dari obesitas adalah perannya sebagai komorbid. Komorbiditas merupakan sebuah istilah medis yang merujuk pada adanya dua atau lebih penyakit kronis yang terjadi secara bersamaan pada satu individu.

"Obesitas digolongkan sebagai komorbid utama karena kondisi ini memicu peradangan kronis di dalam tubuh. Jaringan lemak yang berlebih akan memproduksi sitokin inflamasi yang lambat laun merusak organ vital, memberikan beban ekstra pada kerja jantung, paru-paru, hingga persendian," ujar dr. Mufied

Dalam dialog tersebut, dr. Mufied juga menyampaikan sejumlah faktor risiko serta dampak kesehatan akibat obesitas yang saling berkaitan satu sama lain. Faktor genetik, pola makan tinggi kalori, gaya hidup sedenter (kurang gerak), hingga faktor psikologis seperti stres dan depresi menjadi pemicu utama melonjaknya angka obesitas. Menurut dokter Mufies jika kondisi ini dibiarkan, tubuh akan rentan terserang berbagai penyakit mematikan, di antaranya:

  • Diabetes Mellitus Tipe 2: Penumpukan lemak memicu terjadinya resistensi insulin, di mana sel-sel tubuh tidak mampu menyerap glukosa darah dengan baik.

  • Penyakit Jantung dan Hipertensi: Lemak visceral yang mengelilingi organ dalam memicu penumpukan plak di arteri. Penyumbatan ini meningkatkan tekanan pada dinding pembuluh darah yang berujung pada stroke dan serangan jantung.

  • Dislipidemia: Ketidakseimbangan kadar lemak yang ditandai dengan tingginya kolesterol jahat (LDL) dan rendahnya kolesterol baik (HDL).

  • Sleep Apnea & Osteoartritis: Jaringan lemak di leher dapat menyumbat saluran napas saat tidur sehingga tubuh kekurangan oksigen. Selain itu, beban berat badan yang berlebih merusak tulang rawan sendi, terutama pada lutut dan pinggul.

  • Risiko Kanker: Peradangan kronis dan perubahan hormonal akibat obesitas dapat merusak struktur DNA, yang memicu tumbuhnya sel kanker seperti kanker payudara dan usus besar.

Guna memutus rantai komorbiditas tersebut, dr. Mufied menekankan pentingnya pendekatan holistik dan komitmen dalam mengubah gaya hidup, yang meliputi:

  1. Diet Nutrisi Seimbang: Mengonsumsi makanan rendah kalori dan tinggi serat, serta membatasi makanan tinggi gula, lemak jenuh, olahan tepung, maupun makanan siap saji.

  2. Aktivitas Fisik Rutin: Melakukan olahraga teratur minimal 150 menit per minggu, seperti jalan kaki cepat, jogging, atau bersepeda.

  3. Manajemen Stres: Mengubah kebiasaan makan emosional (emotional eating) saat sedang tertekan.

  4. Pemeriksaan Kesehatan Berkala: Rutin memantau tekanan darah, kadar gula darah, serta profil lipid (kolesterol) ke fasilitas kesehatan untuk mendeteksi risiko penyakit sejak dini.

Melalui kombinasi perubahan kebiasaan sehari-hari dan dukungan medis yang tepat, masyarakat diharapkan dapat menekan risiko komorbiditas obesitas demi mencapai kehidupan yang lebih sehat dan produktif.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....