Studi Terbaru : Kurang Tidur Masa Balita Lipat Gandakan Risiko Depresi saat Remaja

  • 17 Jun 2026 08:12 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Kebiasaan tidur yang buruk pada masa kanak-kanak berisiko meningkatkan ancaman diagnosis depresi saat memasuki masa remaja hingga awal kedewasaan. Temuan tersebut diungkapkan dalam studi terbaru yang dipublikasikan oleh tim akademisi dari Universitas Birmingham, Inggris.

Mengutip artikel dari Antara disebutkan bahwa dalam penelitian jangka panjang yang didukung oleh National Institute for Health and Care Research (NIHR) Oxford Health Biomedical Research Centre ini, para ilmuwan menganalisis data lebih dari 15.000 anak melalui studi Children of the 90s (juga dikenal sebagai Avon Longitudinal Study of Parents and Children).

Para peneliti memantau durasi tidur anak secara berkala mulai dari usia bayi 6 bulan hingga usia 7 tahun. Evaluasi lanjutan kemudian dilakukan untuk melihat tingkat gejala depresi yang dilaporkan sendiri oleh para peserta saat mereka menginjak rentang usia 12,5 hingga 22 tahun.

Hasil riset menunjukkan bahwa anak-anak yang secara konsisten memiliki durasi tidur malam lebih pendek sejak bayi hingga usia 7 tahun, memiliki kecenderungan dua kali lipat lebih tinggi mengalami gejala depresi yang berat dan menetap di usia 13 sampai 22 tahun.

"Risiko yang meningkat dua kali lipat mungkin terdengar besar, tetapi masalah tidur yang menetap hanya dialami oleh sebagian kecil peserta studi, dan hanya sebagian kecil pula yang kemudian mengalami gejala depresi yang berkelanjutan," jelas penulis utama studi tersebut, Dr. Isabel Morales-Muñoz.

Di sisi lain, penelitian ini juga menyoroti adanya jalur biologis yang menghubungkan gangguan tidur kronis dengan masalah mental jangka panjang. Tim peneliti menemukan adanya peran peradangan (inflamasi) di dalam tubuh, di mana salah satu penanda inflamasi bernama IL-6 disinyalir ikut berkontribusi terhadap munculnya gejala depresi remaja akibat kurang tidur.

Meskipun terdengar mengkhawatirkan, salah satu penulis studi lainnya, Dr. Rebekah Amos, menyebutkan bahwa tidur adalah faktor yang "dapat dimodifikasi". Artinya, risiko penurunan kesehatan mental ini dapat dicegah sedini mungkin dengan memperbaiki rutinitas perilaku tidur anak tanpa memerlukan intervensi medis yang rumit.

Para peneliti menyarankan beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan oleh para orang tua guna menciptakan kualitas tidur anak yang lebih baik:

  1. Mendorong anak untuk tidur lebih awal dan membangun jadwal tidur yang konsisten setiap hari.

  2. Membatasi atau mengurangi penggunaan gawai atau layar komputer/TV (screen time) menjelang jam tidur.

  3. Membiasakan anak untuk aktif secara fisik dan bergerak di siang hari.

  4. Menciptakan lingkungan kamar tidur yang tenang, sejuk, dan nyaman bagi anak.

Menurut Dr. Morales-Muñoz, menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik ini memang tidak selalu mudah bagi orang tua. Namun, langkah preventif ini jauh lebih sederhana untuk dilakukan daripada harus mengobati gejala emosional dan gangguan kesehatan mental anak yang terlanjur muncul saat mereka dewasa nanti.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....