Sistem RAID pada NAS: Mengatur Kapasitas, Performa, dan Redundansi Storage

  • 01 Okt 2026 10:44 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Penyimpanan data pada server tidak selalu cukup mengandalkan satu unit hard disk. Ketika disk mengalami kegagalan, data dan layanan yang bergantung pada perangkat tersebut dapat ikut terganggu. Salah satu metode yang digunakan pada sistem Network Attached Storage (NAS) untuk menghadapi risiko tersebut adalah RAID. RAID, singkatan dari Redundant Array of Independent Disks, merupakan teknologi yang mengatur beberapa disk fisik sebagai satu susunan penyimpanan. Data dapat dibagi, disalin, atau dilengkapi informasi parity sesuai dengan level RAID yang digunakan.

Tiga mekanisme dasar yang umum digunakan adalah striping, mirroring, dan parity. Striping membagi data ke beberapa disk sehingga operasi dapat dilakukan secara paralel. Mirroring menyimpan salinan data pada disk lain, sedangkan parity menyimpan informasi tambahan yang dapat digunakan untuk merekonstruksi data ketika salah satu disk mengalami kegagalan. Sebagai contoh sederhana, pada sistem dua disk dengan striping, data dapat didistribusikan ke beberapa disk. Sementara pada mirroring, data yang sama disimpan pada kedua disk.

Implementasi RAID dapat dilakukan menggunakan hardware RAID controller maupun software RAID. Pada hardware RAID, pengelolaan array dilakukan oleh perangkat controller khusus. Sementara software RAID dikelola oleh sistem operasi atau lapisan storage menggunakan sumber daya komputer atau NAS.

Tiga Fungsi Utama RAID
Performa

RAID tertentu menggunakan striping untuk mendistribusikan operasi I/O ke beberapa disk. Dengan demikian, beberapa operasi dapat berlangsung secara paralel. Namun, peningkatan performa tidak sama pada setiap level RAID. Jenis disk, pola akses data, ukuran operasi I/O, workload, dan kemampuan NAS maupun jaringan ikut menentukan hasil akhirnya.

Redundansi

RAID juga dapat membuat sistem tetap beroperasi ketika satu atau beberapa disk mengalami kegagalan, tergantung level yang digunakan. Setiap level memiliki konsekuensi berbeda terhadap kapasitas, performa, dan toleransi kegagalan. Kemudian secara umum level RAID yang digunakan sebagai berikut:

  • RAID 0 menggunakan striping tanpa redundansi.

  • RAID 1 menggunakan mirroring dan dapat bertahan dari kegagalan satu disk dalam pasangan mirror.

  • RAID 5 menggunakan parity dan dapat menoleransi satu disk yang gagal.

  • RAID 6 menggunakan dua parity dan dapat menoleransi dua disk yang gagal.

  • RAID 10 menggabungkan mirroring dan striping.

Kapasitas

Kapasitas yang tersedia pada RAID tidak selalu sama dengan total kapasitas seluruh disk. Sebagian kapasitas digunakan untuk mirror atau parity, tergantung konfigurasi yang dipilih. Misalnya NAS menggunakan empat HDD berkapasitas 4 TB, sehingga kapasitas mentahnya mencapai 16 TB. Maka gambaran kapasitas efektifnya menjadi sebagai berikut:

Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa tidak ada satu level RAID yang unggul untuk semua kebutuhan. RAID 0 mengutamakan kapasitas dan performa tetapi tidak memberikan redundansi. RAID 1, 5, 6, dan 10 memberikan perlindungan terhadap kegagalan disk dengan mekanisme dan konsekuensi kapasitas yang berbeda.

RAID Bukan Backup

RAID memberikan redundansi, bukan backup. RAID dapat membantu sistem tetap berjalan ketika disk mengalami kegagalan, tetapi tidak melindungi data dari file yang terhapus, kesalahan pengguna, ransomware, kerusakan filesystem, kerusakan seluruh perangkat NAS, pencurian, atau bencana. Pada RAID 1, misalnya, ketika sebuah file dihapus, penghapusan tersebut juga terjadi pada disk mirror. Karena itu, RAID tetap membutuhkan sistem backup yang menyimpan salinan data pada media atau lokasi yang terpisah.

Implementasi RAID pada NAS

Pengaturan RAID pada NAS umumnya menjadi bagian dari beberapa lapisan penyimpanan. Disk fisik terlebih dahulu disusun menjadi RAID atau storage pool. Dari struktur tersebut, sistem dapat membuat volume dan filesystem sebelum data disediakan melalui shared folder. Secara sederhana, hubungan antar-lapisan tersebut adalah:

HDD → RAID / Storage Pool → Volume → Filesystem → Shared Folder → Client

HDD merupakan media penyimpanan fisik. Storage pool atau array mengelola beberapa disk sebagai satu kesatuan. Volume digunakan untuk menyediakan ruang penyimpanan bagi filesystem, sedangkan filesystem mengatur bagaimana file dan direktori disimpan. Setelah itu administrator dapat membuat shared folder dan menentukan hak akses pengguna. Pada tahap akhir, komputer atau server di jaringan dapat mengakses data melalui protokol seperti SMB atau NFS sesuai kebutuhan.

Cara Setting RAID pada NAS

Nama menu dan proses detail berbeda-beda antar sistem NAS seperti Synology, QNAP, TrueNAS, Windows Storage Spaces, maupun sistem RAID lainnya. Kemudian perlu diperhatikan saat pembuatan RAID, NAS biasanya memberikan peringatan bahwa disk akan diinisialisasi atau data yang ada dapat terhapus. Karena itu, disk yang digunakan harus dipastikan tidak berisi data yang masih diperlukan. Berikut konfigurasi umum yang perlu dilakukan :

  1. Pasang HDD ke dalam bay NAS, pastikan seluruh disk terdeteksi.

  2. Buka aplikasi pengelolaan storage, lalu buat storage pool atau array.

  3. Pilih level RAID dan disk yang digunakan.

  4. Konfirmasi konfigurasi dan tunggu proses initialization, synchronization, atau proses sejenisnya.

  5. Buat volume pada storage yang tersedia, dan pilih filesystem jika sistem menyediakan pilihan.

  6. Buat shared folder dan atur permission.

  7. Hubungkan komputer atau server melalui SMB, NFS, atau protokol yang sesuai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....