Perajin Batu Akik Bertahan di Pasar Serayu Stone
- 30 Jan 2026 14:07 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Kesetiaan para perajin dalam mempertahankan batu akik nusantara terlihat jelas di bengkel pemolesan Pasar Serayu Stone Banyumas pada Kamis, (29/1/2026). Di tengah fluktuasi tren, proses pengolahan bongkahan batu alam menjadi perhiasan bernilai seni tinggi masih terus berlangsung hingga saat ini.
Yudi, seorang pengrajin batu akik, yang telah menggeluti profesi ini selama 12 tahun sejak tahun 2014, membagikan kisahnya dalam mengolah berbagai jenis batu. Ia menjelaskan bahwa meski tren batu akik tidak seramai dulu, dedikasi terhadap kualitas tetap menjadi prioritas utama.
"Semua batu nusantara sudah kita poles semua, sudah dibentuk cincin. Kalau masalah proses, yang sulit itu batu-batu mulia, seperti Ruby, Safir, Emerald atau Jamrud," ujar Yudi.
Proses pemolesan dimulai dengan melihat tekstur serta batu untuk menentukan teknik pemotongan dan pengamplasan yang paling tepat. Pengrajin biasanya menyesuaikan bentuk akhir batu dengan keinginan konsumen, apakah ingin menonjolkan motif tertentu atau mengikuti standar bentuk cincin.
Alat-alat yang digunakan tergolong klasik namun fungsional, mulai dari mesin pemotong batu akik, gerinda, hingga berbagai tingkat kehalusan amplas. Kunci utama dalam proses ini adalah ketelitian agar keindahan alami batu dapat terpancar secara maksimal tanpa merusak materialnya.
"Untuk pemotongan, batu harus terus ditetesi dengan air. Tujuannya supaya batu tidak panas, kalau panas batu bisa pecah," jelas Yudi mengenai teknik pengamanan batu.
| Baca juga: Makyozi Bertahan Berkat Kualitas Produk |
Aspek visual menjadi penentu utama apakah sebuah batu siap dilempar ke pasaran atau tidak, di mana hasil polesan harus terlihat mengkilat atau glowing. Selain itu, keberadaan pamor atau motif unik di dalam batu menjadi nilai tambah yang sangat dicari oleh para kolektor saat ini.
Dari sisi ekonomi, pendapatan pengrajin saat ini mengalami penurunan yang cukup signifikan pendapatan harian berkisar antara Rp50.000 hingga Rp200.000. Hal itu terlihat jika dibandingkan masa keemasan batu akik beberapa tahun silam yang bisa mencapai jutaan rupiah.
"Kriterianya batunya harus glowing alias mengkilat bagus. Terus punya pamor atau gambar, kalau ada motifnya pasti laku di pasaran," ungkapnya.
Giatno, seorang pencinta batu akik, mengungkapkan bahwa ketertarikannya terhadap batu cincin didasari oleh keinginan kuat untuk melestarikan budaya Jawa. Baginya, mengenakan batu akik bukan sekadar hobi, melainkan identitas budaya yang sudah melekat erat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Koleksi yang dimilikinya saat ini berjumlah sekitar empat hingga enam buah batu akik. Gianto tetap rutin mendatangi bengkel pemolesan untuk merawat dan membentuk koleksi batu miliknya.
"Ya harapan ke depan sih mudah-mudahan mulai ramai lagi gitu. Karena untuk menjaga kelestarian Budaya seperti itu," ujar Giatno.
(Vera Purmadani Fitria)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....