Di Eks Karesidenan Banyumas Dompet Digital Makin Menggeser Uang Tunai
- 24 Agt 2026 18:34 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas— Kebiasaan membawa uang tunai perlahan mulai berubah di wilayah Eks Karesidenan Banyumas. Di warung, tempat kuliner, hingga layanan pemerintah, pembayaran digital semakin menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat.
Perubahan itu tercermin dari masifnya penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah kerja Bank Indonesia (BI) Purwokerto.Hingga Juli 2026, tercatat sekitar 639.643 merchant telah menggunakan QRIS. Sementara volume transaksinya selama Januari hingga Juli 2026 mencapai 153.946.136 transaksi dengan nilai Rp11.641.577.535.604.
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa pembayaran digital bukan lagi sekadar alternatif, tetapi mulai menjadi bagian dari kebiasaan transaksi masyarakat. Kepala Perwakilan BI Purwokerto Aswin Gantina mengatakan perluasan transaksi digital terus dilakukan sebagai bagian dari transformasi sistem pembayaran nasional yang mengacu pada Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030.
“Yang kita harapkan, bagaimana sistem pembayaran semakin terintegrasi dan mampu mendukung aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Aswin dalam konferensi pers, Senin (24/8/2026).
Transformasi tersebut semakin diperkuat dengan peluncuran Kartu Kredit Indonesia (KKI) pada 17 Agustus 2026. Instrumen tersebut menjadi salah satu langkah BI membangun ekosistem pembayaran nasional yang semakin terintegrasi. Sejumlah perbankan nasional telah terlibat dalam implementasi KKI, di antaranya Bank Mandiri, BNI, BCA, OCBC, dan Permata.
“Di Indonesia ini mungkin baru ada beberapa bank yang sudah terlibat, seperti Mandiri, BNI, BCA, OCBC, dan Permata,” ujar Aswin.
Namun, digitalisasi pembayaran tidak berhenti pada kartu dan QRIS. BI juga mendorong agar pembayaran digital semakin dekat dengan aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk sektor kuliner dan usaha mikro. Melalui kegiatan QRIS Jelajah Indonesia Kuliner pada 17–18 Juli 2026, BI Purwokerto mendorong pelaku usaha kuliner, termasuk pemilik usaha legendaris, untuk mengadopsi QRIS.
“Orang sekarang, apalagi anak-anak muda, kalau kuliner biasanya sudah tidak banyak membawa uang tunai,” kata Aswin.
Meski pembayaran digital semakin berkembang, BI memastikan perubahan tersebut tidak berarti uang tunai akan ditinggalkan.Data BI Purwokerto menunjukkan, sepanjang Januari hingga Juli 2026, outflow uang tunai tercatat sekitar Rp4,865 triliun. Sementara inflow mencapai sekitar Rp8,8 triliun.
Menurut Aswin, perubahan arus uang tersebut tidak bisa langsung dimaknai sebagai menurunnya kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai. Salah satu faktornya adalah semakin optimalnya mekanisme pertukaran uang antarbank.
“Turunnya bukan berarti masyarakat turun kebutuhannya, tetapi semakin difasilitasi oleh tukar-menukar antar bank,” jelasnya.
Karena itu, BI tetap memastikan ketersediaan uang rupiah, baik dari sisi jumlah maupun pecahan, termasuk bagi masyarakat di wilayah terpencil dan kawasan 3T. Di Banyumas Raya, distribusi uang rupiah ke wilayah sulit dijangkau antara lain dilakukan melalui ekspedisi rupiah ke kawasan terpencil Kampung Laut di Cilacap.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....