Museum Wayang Banyumas: Menjaga Cerita, Merawat Tradisi

  • 19 Sep 2026 08:53 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Museum Wayang Banyumas tidak hanya menjadi tempat untuk menyimpan dan memamerkan koleksi pewayangan. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan minat generasi muda, museum terus mengembangkan berbagai program agar wayang tetap dekat dengan masyarakat sekaligus menjaga nilai tradisi yang terkandung di dalamnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Kurator Museum Wayang Banyumas, Reza Haryanto, dalam program Kita Indonesia Pro 1 RRI Purwokerto yang mengusung tema Museum Wayang Banyumas: Rumah Ingatan dan Penjaga Tradisi, Kamis, (17/9/2026). Pada program ini, Reza menjelaskan berbagai upaya museum dalam memperkenalkan pewayangan melalui pendekatan yang lebih interaktif dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Salah satu upaya dilakukan melalaui digitalisasi koleksi. Museum mengembangkan koleksi dalam bentuk animasi dan permainan interaktif, termasuk pemaanfaatan augmented reality (AR). Pengunjung dapat memindai kode yang tersedia di area koleksi menggunakan gawai untuk memperoleh informasi mengenai karakter dan koleksi wayang.

Melalui pendekatan digital tersebut, museum berupaya untuk menjembatani koleksi tradisional dengan kebiasaan generasi muda yang semakin dekat dengan teknologi. Selain AR, tersedia pula permainan interaktif menggunakan layar sentuh yang dapat dimainkan oleh pengunjung.

Museum juga mengembangkan cerita pewayangan dalam bentuk animasi dengan karakter yang dibuat lebih dekat dengan karakter yang dibuat lebih dekat dengan bentuk hibutan yang dikenal oleh generasi muda. Menurut Reza, cara tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal dapat dikemas dengan pendekatan modern tanpa harus kehilangan cerita dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Upaya mendekatkan museum dengan generasi muda juga dilakukan melalui penataan ulang ruang pamer. Sejak 2021, Museum Wayang Banyumas melakukan kajian tata pamer untuk membuat pengalaman kunjungan lebih terarah.

Sebelumnya, banyak koleksi yang ditampilkan dalam ruang terbatas membuat ruang pamer terkesan seperti tempat penyimpangan. Karena itu, penataan kembali dilakukan dengan membangun alur cerita yang dimulai dari sejarah wayang secara umum, kemudian berlanjut pada wayang Banyumasan dan berbagai jenis wayang dari daerah lain.

Pengunjung kemudian diarahkan menuju bagian yang menyediakan teknologi interaktif seperti AR dan permainan digital, sebelum ditutup dengan sajian animasi. Dengan alur tersebut, koleksi tidak hanya dilihat sebagai benda, tetapi juga dipahami melalui cerita yang menyertainya.

Selain itu, museum memiliki program pementasan wayang padat. Pertunjukan wayang yang umumnya berlangsung semalam suntuk dikemas dalam durasi lebih singkat dengan tetap mempertahankan inti cerita. Hal ini menjadi salah satu cara untuk membantu generasi muda memahami cerita pewayangan tanpa harus mengikuti pertunjukan hingga dini hari.

Museum Wayang Banyumas juga memberikan perhatian terhadap regenerasi pelaku seni pedalangan dan sinden. Melalui program Belajar Bersama Museum, generasi muda dapat mengikuti kegiatan belajar sinden dan pedalangan.

Program tersebut menyasar anak-anak, pelajat, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap pewayangan. Peserta diperkenalkan dengan teknis sindenan Banyumasan maupun gaya permainan seorang dalang.

Program edukasi tersebut juga berlanjut pada kegiatan perlombaan dalang. Peserta yang sebelumnya mengikuti pelathan dapat mengikuti kegiatan perlombaan sebagai bagian dari kesinambungan program.

Museum juga berkolaborasi dengan Perkumpulan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Banyumas. Kolaborasi dilakukan dalam pelatihan sinden dan pedalangan maupun kegiatan museum keliling yang menyasar sekolah, kampus, dan berbagai lokasi lainnya.

Bagi Museum Wayang Banyumas, menjaga trasidi bukan hanya berarti merawat benda-benda koleksi. Setiap koleksi juga memiliki cerita dan informasi yang perlu dikaji serta disampaikan kepada generasi berikutnya.

Reza menjelaskan bahwa museum melakukan kajian terhadap koleksi secara berkala, mulai dari bahan, usia, lakon, hingga sejarah kepemilikan koleksi. Informasi tersebut kemudian dikemas agar dapat dipahami oleh masyarakat.

Salah satu caranya adalah melalui animasi yang tetap menggunakan cerita sesuai lakon aslinya, tetapi disajikan dengan desain dan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh generasi sekarang.

“Cerita yang digunakan itu benar-benar cerita sesuai lakon aslinya,” ujar Reza.

Pendekatan tersebut juga menjadi salah satu cara menghadapi tantangan berupa semakin berkurangnya pemahaman generasi muda terhadap bahasa Jawa yang digunakan dalam pertunjukan wayang.

Museum juga berperan dalam memperkenalkan karakteristik wayang Banyumasan. Salah satu ciri yang disebutkan Reza adalah keberadaan tokoh Bawor yang menjadi karakter khas dalam pewayangan Banyumas Raya.

Selain karakter, ukuran wayang Banyumasan juga memiliki perbedaan dengan wayang dari daerah lain. Wayang Banyumasan umumnya berukuran lebih kecil. Perbedaan tersebut menjai bagian dari identitas pewayangan Banyumasan yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat.

Cerita pewayangan sendiri dinilai memiliki berbagai Pelajaran mengenai kehidupan. Reza mencontohkan lakon “Bawon Dadi Ratu” yang mengajarkan bahwa tujuan yang baik tetap perlu dilakukan dengan cara yang baik. Ada pula lakon “Bendung Kalisayu” yang menggambarkan konflik kepentingan dan pentingnya penyelesaian melalui perundingan.

Selain ruang pamer, museum juga berupaya untuk menjadikan ruang terbuka sebagai ruang berkegiatan bagi masyarakat. Area tersebut dapat digunakan untuk berdiskusi, mengerjakan tugas, hingga mengenal alat musik tradisional seperti gamelan.

Museum juga telah menyediakan fasilitas untuk pengunjung penyandang disabilitas, seperti kursi roda dan jalur akses menuju toilet. Ke depan, museum memproyeksikan revitalisasi fasilitas, termasuk pembangunan ruang pamer temporer yang dapat digunakan untuk pameran tematik serta kegiatan seni dan budaya.

Reza berharap museum tidak berhenti sebagai tempat penyimpanan dan pameran koleksi. Museum diharapkan kembali menjadi ruang bersama bagi komunitas dan masyarakat yang memiliki kepeduliasn terhadap seni pedalangan serta budaya Banyumas.

“Museum bisa menjadi rumahnya komunitas pecinta pedalangan kembali,” kata Reza.

Melalui digitalisasi, edukasi, kolaborasi, dan pengembangan ruang publik, Museum Wayang Banyumas berupaya mempertemukan tradisi dengan perkembangan zaman. Upaya tersebut menjadi bagian dari proses menjaga cerita dan nilai pewayangan agar tetap dapat dikenali, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....