Menelusuri Jejak Sejarah Banyumas dari Masa ke Masa

  • 14 Sep 2026 09:29 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Banyumas hari ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki kekayaan budaya dan sejarah. Namun, di balik perkembangan kota dan kehidupan masyarakatnya, terdapat berbagai jejak masa lalu yang masih dapat ditemukan, mulai dari bangunan bersejarah, jalur transportasi, tokoh penting, hingga kuliner yang terus diwariskan.

Berbagai cerita tersebut menjadi pembahasan dalam Podcast Lintas Zaman Pro 2 RRI Purwokerto pada Minggu, (13/9/2026), dengan mengangkat tema Menelusuri Jejak Banyumas, podcast ini menghadirkan Nugroho Pandu Sukmono, yang merupakan Public Relations Banyumas History Heritage Community (BHHHC), untuk mengajak pendengar mengenal kembali sejarah Banyumas dan warisan yang masih bertahan hingga saat ini.

Menurut Pandu, sejarah Banyumas pada masa sebelum kolonial tidak dapat dilepaskan dari hubungan wilayah tersebut dengan Kerajaan Mataram. Banyumas kemudian mengalami perubahan besar setelah berakhirnya Perang Jawa pada 1830, ketika wilayah Banyumas diserahkan kepada Belanda.

Setelah berada di bawah pemerintahan kolonial, perkembangan Banyumas berlangsung cukup pesat. Berbagai fasilitas mulai dibangun, termasuk perkantoran, perbankan, rumah sakit, jembatan, hingga sarana transportasi.

Salah satu peninggalan yang masih dikenal hingga kini adalah kawasan Kota Lama Banyumas. Pandu menjelaskan bahwa perkembangan fasilitas tersebut turut membentuk wajah Banyumas sebagai wilayah yang semakin terbuka terhadap aktivitas ekonomi dan transportasi.

“Dalam kurun waktu 1830 sampai sekitar 1859 itu perkembanganny sangat pesat di Banyumas,” jelas Pandu.

Pembangunan jembatan Banyumas juga menjadi bagian penting dalam perkembangan tersebut. Kehadiran jembatan membuat arus transportasi darat semakin lancar. Jalur yang sebelumnya banyak memanfaatkan Sungai Serayu sebagai sarana transportasi kemudian berkembang menuju jalur darat.

Transportasi menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan Banyumas. Menurut Pandu, Purwokerto pada masa lalu bahkan memiliki dua perusahaan kereta api, yaitu perusahaan swasta dan perusahaan milik pemerintah.

Kereta api tidak hanya digunakan untuk mengangkut penumpang, tetapi juga membawa hasil Perkebunan. Salah satu komoditas penting yang diangkut melalui jalur tersebut adalah kopi dari wilayah Bayumas Raya.

Keberadaan jalut kereta api turut membuka akses dan mendorong perkembangan wilayah. Namun, sebagian jalur yang dahulu menghubungkan Purwokerto dengan wilayah lain kini sudah tidak lagi digunakan dan beberapa bagiannya berubah menjadi kawasan permukiman.

Kondisi tersebut membuat pelestarian jejak transportasi lama menjadi tantangan tersendiri. Menurut Pandu, pengaktifan kembali jalur lama memang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, tetapi jalur tersebut juga berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari wisata kota.

Selain bangunan dan transportasi, Banyumas juga menyimpan kisah sejumlah tokoh yang memiliki peran dalam sejarah. Pandu menyebut beberapa nama seperti Dokter Gumbrek dan Dokter Angka yang berasal dari Banyumas dan dikenal sebagai tokoh terpelajar pada masanya.

Ada pula Raden Sutejo, yaitu seorang komponis yang namanya kemudian digunakan sebagai nama Taman Budaya Sutejo. Salah satu karya yang dikatikan dengannya adalah lagu yang menggambarkan Sungai Serayu dan pernah menjadi bagian dari identitas stasiun kereta api.

Banyumas juga memiliki keterkaitan dengan sejarah perkembangan perbankan di Indonesia. Pandu menyebut Bank Priyayi yang didirikan oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja di Banyumas sebagai cikal bakal Bank Rakyat Indonesia (BRI). Hal tersebut menunjukkan bahwa berbagai pertistiwa penting dalam sejarah nasional juga memiliki keterkaitan dengan Banyumas.

Keterkaitan terhadap sejarah lokal kemudia mendorong lahirnya Banyumas History Heritage Community (BHHC). Menariknya, komunitas tersebut pada awalnya tidak secara langsung dibentuk sebagai komunitas pelestarian sejarah.

Pandu menceritakan bahwa pada 2009, sejumlah orang yang memiliki ketertarikan terhadap kereta api mulai melakukan perjalan dengan menyusuri jalur rel dan mendokumentasikan berbagai temuan.

“Sebetulnya kami itu dulu di tahun 2009 itu hanya orang-orang yang senang jalan-jalan menyusuri rel kereta api,” ungkap Pandu.

Dari perjalanan tersebut, mereka menemukan berbagai bangunan tua dan kemudian mencari tahu sejarah dibaliknya. Foto, arsip, surat, serta artefak yang ditemukan semakin memperkaya dokumentasi mereka.

Seiring bertambahnya temuan, muncul kesadaran bahwa sejumlah bangunan dan cerita sejarah perlahan menghilang. Dari situlah perhatian mereka berkembang menjadi upaya pelestarian sejarah, baik dalam bentuk fisik maupun narasi. BHHC kemudian resmi dibentuk pada 11 Novermber 2011. Hingga kini, komunitas tersebut terus melakukan penelusuran, pengumpulan arsip, serta edukasi mengenai sejarah Banyumas.

Jejak sejarah Banyumas ternyata tidak hanya ditemukan melalui bangunan dan arsip, tetapi juga melalui kuliner. Salah satu contohnya adalah mendoan yang menurut penelusuran BHHC memiliki unsur akulturasi budaya, terutama dalam teknik penggorengannya.

Selain mendoan, ada pula nopia yang diperkirakan mulai berkembang di Banyumas sekitar tahun 1850-an melalui keluarga Tionghoa. Kuliner tersebut kemudian diteruskan oleh masyarakat lokal hingga tetap bertahan sampai sekarang.

Warisan budaya juga terlihat melalui kesenian seperti lengger. Meskipun kesenian serupa dapat ditemukan di daerah lain, lengger Banyumas memiliki karakter tersendiri dalam music, gerakan, dan riasannya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan tua atau dokumen. Identitas suatu daerah juga dapat diwariskan melalui makanan, kesenian, kebiasaan, dan cerita yang terus hidup di tengah masyarakat.

Salah satu tantangn pelestarian sejarah Banyumas adalah masih banyak generasi muda yang belum mengenal sejarah lokalnya. Menurut Pandu, masyarakat lebih sering mempelajari sejarah nasional, sementara berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar justru kurang diperhatikan.

Karena itu, langkah pertama dalam menjaga sejarah adalah mengenalinya terlebih dahulu.

“Kenali dulu, ketahui sejarahnya. Kalau kurang kenal, ayo dekat. Kita kunjungi tempatnya, kita lihat tempatnya, kita pelajari arsip-arsipnya,” kata Pandu.

Ia menilai upaya pelestarian dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Masyarakat dapat mendatangi bangunan lama, mencari cerita dari keluarga, mempelajari arsip, atau sekadar bertanya mengenai sejarah suatu tempat.

Pada akhirnya, menelusuri sejarah Banyumas bukan sekadar melihat masa lalu. Upaya tersebut menjadi cara untuk memahami bagaimana sebuah wilayah terbentuk, bagaimana identitas masyarakat berkembang, serta mengapa berbagai warisan budaya masih memiliki arti hingga sekarang.

Sejarah pun tidak akan berhenti menjadi cerita lama selama masih ada masyarakat yang mau mengenali, menceritakan, dan menjaganya. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....