Dinpora Banyumas Gelar Workshop untuk Lestarikan Lukisan Sokarajaan
- 12 Agt 2026 13:48 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas menggelar Workshop Lukis Sokarajaan di Taman Budaya Soetedja, 12-13 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut diikuti pelajar SMP dan SMA/SMK se-Kabupaten Banyumas sebagai upaya mengenalkan sekaligus melestarikan seni lukis khas Sokarajaan kepada generasi muda.
Plt. Dinporabudpar Banyumas mengatakan, lukisan Sokarajaan memiliki pakem dan karakteristik yang berbeda dengan seni lukis dari daerah lain. Namun, keberadaan pelukis Sokarajaan saat ini semakin berkurang sehingga diperlukan regenerasi.
"Harapan kami dari workshop ini nanti akan lahir generasi-generasi penerus, khususnya pelukis ala Sokarajaan. Karya mereka nantinya juga akan kami pamerkan dalam Festival Lukisan di Kabupaten Banyumas," ujarnya.
Menurutnya, kegiatan yang didanai pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) tersebut menjadi salah satu upaya menjaga keberlangsungan seni lukis Sokarajaan.
Ia menjelaskan, lukisan Sokarajaan memiliki keunikan dalam pemasaran karena dahulu banyak diproduksi secara kodian dalam bentuk gulungan. Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif di Banyumas.
"Kami ingin para pelukis ke depan bisa menjadikan ini sebagai ekonomi kreatif, menjadi ekosistem ekonomi kreatif tersendiri di Kabupaten Banyumas yang bisa menghidupi para pelukis dan seniman melalui karya yang diciptakan," katanya.
Sementara itu, narasumber workshop, Zen Ahmad, menjelaskan lukisan Sokarajaan memiliki ciri khas berupa dominasi langit biru-putih serta objek gunung, sawah, dan sungai.
Menurutnya, setiap objek dalam lukisan memiliki makna. Gunung melambangkan keagungan Tuhan, padi menggambarkan kemakmuran, sedangkan sungai menjadi simbol rezeki yang terus mengalir.
Zen mengatakan, seni lukis Sokarajaan mulai berkembang sejak 1960-an dan mencapai masa kejayaan pada 1970 hingga 1980-an. Pada masa itu, sepanjang Jalan Jenderal Sudirman Sokaraja dipenuhi galeri dan penjual lukisan.
"Bahkan ada yang melabeli Sokaraja pernah menjadi galeri terpanjang se-Asia Tenggara, karena kanan-kiri sepanjang Jalan Sudirman Sokaraja itu menjual lukisan," ujarnya.
Menurut Zen, pada era 1990-an pemasaran lukisan Sokarajaan bahkan menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Namun kini jumlah pelukis muda yang masih bertahan diperkirakan hanya sekitar 15 hingga 20 orang.
Ia berharap generasi muda, termasuk pelajar, ikut melestarikan seni lukis Sokarajaan agar tidak hilang tergerus perkembangan zaman.
Salah satu peserta workshop, Misya Amanda Fadillah, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut meski baru pertama kali mempelajari lukisan Sokarajaan. Ia telah menekuni seni lukis sejak 2020.
"Biar bisa meningkatkan skill sama dapat teman-teman baru," ungkapnya.
Karya terbaik peserta workshop nantinya direncanakan ditampilkan dalam Festival Taman Budaya Soetedja 2026.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....