Ke Serulingmas Banjarnegara, Pengunjung Bisa Sekaligus Wisata Sejarah dan Religi
- 09 Agt 2026 11:29 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banjarnegara: Taman Rekreasi Marga Satwa (TRMS) Serulingmas Banjarnegara tidak hanya menawarkan wisata melihat beragam koleksi satwa. Di kawasan ini, pengunjung juga bisa menikmati wisata religi sekaligus menelusuri jejak sejarah peninggalan masa kolonial.
Konsep wisata 3 in 1 tersebut mencakup wisata satwa, ziarah ke makam Ki Ageng Selamanik, serta melihat peninggalan proyek irigasi kolonial Bandjar Tjahjana Werken (BTW). Dua objek tersebut berada tidak jauh dari kawasan utama TRMS Serulingmas sehingga dapat menjadi alternatif tujuan bagi wisatawan yang ingin mendapatkan pengalaman berbeda.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara, Heni Purwono, mengatakan keberadaan makam Ki Ageng Selamanik menjadi salah satu sisi sejarah yang menarik untuk ditelusuri di kawasan TRMS Serulingmas. Makam tersebut berada di bagian selatan kawasan, tidak jauh dari kandang merak dan owa.
Cungkup makam memiliki bentuk sederhana dengan bagian bawah berupa tembok batu andesit dan atap limasan bertingkat tiga. Di dalam bangunan berukuran sekitar 6 x 4 meter tersebut terdapat satu makam utama yang diyakini sebagai makam Ki Ageng Selamanik, serta empat makam lain berukuran lebih kecil.
Dalam sejumlah literatur yang berkembang di masyarakat, termasuk buku muatan lokal Dawet Ayu Banjarnegara untuk tingkat sekolah dasar, Selamanik dikenal sebagai tokoh pejuang yang membantu Pangeran Diponegoro melawan penjajah. Namun, terdapat sumber sejarah lain yang memberikan gambaran berbeda mengenai sosok Selamanik.
Heni menjelaskan, dalam naskah Babad Sarasilah Kang Pinundhi Kanjeng Sunan Giri Wasiat Ingkang Sumare Ing Dagan Badakarya, Selamanik disebut sebagai seorang Ki Adipati. Tempat tersebut juga dikisahkan menjadi lokasi persinggahan anak-anak Sunan Giri Gajah ketika melakukan dakwah di kawasan barat Tanah Jawa, yakni Pangeran Giri Wasiat, Panembahan Gripit, dan Nyai Sekati.
“Kalau melihat dua sumber tersebut, ada perbedaan rentang waktu yang sangat jauh. Artinya, sangat mungkin Selamanik yang disebut dalam masing-masing sumber merupakan orang yang berbeda. Mana yang benar, tentu masih membutuhkan penelitian lebih lanjut,” ujar Heni.
Selain makam Selamanik, jejak sejarah lain yang dapat ditemukan di kawasan TRMS Serulingmas adalah proyek irigasi Bandjar Tjahjana Werken. Bendungan tersebut berada di sisi barat kawasan, tepatnya di seberang kandang rusa atau sekitar panggung hiburan utama.
Proyek irigasi Bandjar-Tjahjana Werken dibangun secara bertahap pada periode 1912 hingga 1938. Proyek tersebut dirancang oleh arsitek sekaligus ahli teknik kolonial Belanda, E.W.H. Clason dan D. Snell, sebagai salah satu proyek strategis pemerintahan Hindia Belanda.
Meski bendungan tersebut kini telah tergantikan oleh Bendungan PLTA Panglima Besar Jenderal Sudirman, sejumlah saluran irigasinya masih memanfaatkan jaringan yang berasal dari masa kolonial. Jejak tersebut menjadi bagian penting dari sejarah pembangunan infrastruktur pengairan di Banjarnegara.
Menurut Heni, keberadaan dua objek tersebut membuat kunjungan ke TRMS Serulingmas tidak hanya sebatas menikmati wisata satwa. Pengunjung juga dapat mengenal sejarah dan budaya yang berada di sekitar kawasan tersebut.
“Jadi kalau berkunjung ke TRMS Serulingmas, jangan hanya melihat satwanya. Ada makam Selamanik yang bisa menjadi tujuan wisata religi dan ada pula jejak Bandjar Tjahjana Werken yang menarik untuk melihat sejarah pembangunan irigasi di Banjarnegara,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....