Minim Pemahaman, Cagar Budaya Banjarnegara yang Melimpah Terancam Hilang

  • 09 Agt 2026 10:46 WIB
  •  Purwokerto

Banjarnegara merupakan kabupaten yang memiliki potensi cagar budaya yang melimpah. Dari era klasik hingga kontemporer, aneka cagar budaya ada di sana. Namun kemelimpahan tanpa diimbangi dengan kepahaman masyarakat dan keberpihakan pemangku kebijakan banyak potensi cagar budaya yang rawan punah.

Hal itu diungkapkan Ketua Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) Heni Purwono ketika melakukan kajian lapangan situs-situs penyebar agama Islam di Banjarnegara, Sabtu 8 Agustus 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pembahasan Pengkajian Dokumentasi dan Sosialisasi (Mbah Kaji Doso) yang didukung oleh Dana Indonesia Raya, LPDP dan Kementerian Kebudayaan RI.

"Potensinya luar biasa. Sehari saja di kawasan kota, kami bisa mendatangi tiga situs dengan beberapa cagar budaya," jelas Heni.

Tim YSMI hari itu mengunjungi makam Ki Ageng Selamanik, Makam Sunan Giri Wasiat dan Makam Sunan Gripit.

Makam Selamanik terdiri dari 1 makam besar dan 4 makam kecil. Fasad cungkup bangunan juga menandakan bahwa bangunan ini telah lebih dari 50 tahun dibangun sehingga perlu juga ditetapkan menjadi cagar budaya.

"Cungkupnya saja saya lihat masuk kategori cagar budaya. Mungkin dibangun masa kolonial atau awal kemerdekaan," jelas Heni.

Di Makam Sunan Giri Wasiat, struktur makam masih relatif asli. Untuk menuju ke puncak bukit tempat makam itu berada, pengunjung harus berjalan menaiki 156 anak tangga. Di bawah bukit terdapat masjid besar yang di dalamnya juga tersimpan beberapa benda yang diyakini peninggalan Sunan Giri Wasiat.

"Dulu masjid ini sampai 2009 juga masjid kuno, masih pakai kayu. Namun minimnya pemahaman masyarakat terhadap cagar budaya menjadikannya dibongkar total diganti bangunan beton," ujar Heni menyayangkan.

Benda-benda peninggalan Sunan Giri Wasiat diantaranya jubah yang sudah sangat lapuk, sandal bakyak kayu dan gelang kayu.

"Saya pikir sangat diperlukan juga dukungan pemangku kebijakan agar cagar budaya dapat dipelihara dengan baik. Dianggarkan perawatannya, sehingga kehadiran negara dalam menjaga cagar budaya terasa," tambahnya.

Pamong Budaya Ahli Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah Harun Al Rasyid mengungkapkan penetapan cagar budaya saja tidak cukup, butuh sosialisasi terus menerus.

"Pemerintah Kabupaten harus proaktif terus menerus melakukan sosialisasi, khususnya kepada para pengelola atau pemilik cagar budaya. Partisipasi masyarakat menjadi sangat penting bagi pelestarian cagar budaya. Apa lagi dengan potensi yang sangat melimpah seperti di Banjarnegara ini," tandas Harun.

Juru kunci makam Sunan Gripit Masruri misalnya, ia mengaku pernah ada seseorang yang memasang kijing makam di makam Sunan Gripit.

"Ya saya larang, karena itu bukan asli. Di sini dari dulu ya hanya nisan itu. Kami hanya menambah cungkup yang dulu dari bambu dan selasar menuju makam saja," kenang Masruri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....