Petungan Jawa Dikenalkan Kembali kepada Generasi Muda

  • 09 Jul 2026 14:10 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas – Di tengah arus modernisasi yang membuat generasi muda semakin akrab dengan horoskop dan ramalan digital, pengetahuan tradisional tentang petungan Jawa justru kembali diangkat sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan budaya. Melalui Workshop Tradisi Petungan Jawa: Dari Kelahiran Sampai Kematian yang digelar di Pendopo Si Panji Purwokerto, Kamis (9/7/2026), masyarakat diajak memahami kembali filosofi di balik perhitungan weton yang telah diwariskan turun-temurun.

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menegaskan petungan Jawa bukan sekadar hitung-hitungan hari baik dan buruk, melainkan mengandung nilai-nilai kehidupan serta cara pandang leluhur dalam memaknai perjalanan manusia sejak lahir hingga meninggal dunia.

"Petungan Jawa memiliki nilai, filosofi, dan menjadi salah satu cara orang-orang terdahulu memaknai perjalanan hidup manusia. Karena itu, pengetahuan ini perlu terus dipelajari dan diwariskan," kata Sadewo saat membuka kegiatan.

Menurutnya, workshop tersebut menjadi ruang penting untuk mendokumentasikan sekaligus mendiskusikan pengetahuan tradisional yang selama ini hidup di tengah masyarakat. Ia berharap forum semacam itu mampu menarik minat generasi muda agar lebih mengenal identitas budaya Jawa.

"Saya berharap forum seperti ini menjadi tempat saling belajar, bukan hanya bagi peserta yang hadir, tetapi juga bagi generasi muda agar memahami pengetahuan yang diwariskan para leluhur," ujarnya.

Sadewo juga menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk membangun daerah secara inklusif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk komunitas penghayat kepercayaan yang turut menjaga kelestarian budaya lokal.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Kawruh Rasa Sejati, Feby Lestari, menjelaskan workshop digelar sebagai upaya mengenalkan kembali petungan Jawa kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang mulai asing dengan konsep weton dan hari pasaran Jawa.

Ia menjelaskan, petungan Jawa menggunakan sistem neptu, yakni penjumlahan nilai hari dalam kalender Masehi dengan lima hari pasaran Jawa, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Kombinasi angka tersebut kemudian menjadi pedoman untuk menentukan hari baik, membaca karakter seseorang, hingga pertimbangan dalam berbagai peristiwa penting kehidupan.

"Kalau sekarang orang lebih mengenal horoskop, sebenarnya masyarakat Jawa juga memiliki sistem pengetahuan sendiri yang berkaitan dengan hari kelahiran. Ini penting dilestarikan agar generasi muda mengenal identitas budayanya," kata Feby.

Menurutnya, semakin sedikit anak muda yang memahami makna weton seperti Senin Pahing, Jumat Wage, atau Minggu Kliwon. Padahal, tradisi tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam semesta.

Workshop menghadirkan sejumlah narasumber yang mendalami tradisi petungan Jawa, yakni Ki Samino dari Paguyuban Wayah Kaki, Agung Prabowo dari akademisi Universitas Jenderal Soedirman, serta Ki Prayit dari Paguyuban Kawruh Rasa Sejati. Melalui forum ini, peserta diajak memahami petungan Jawa tidak hanya sebagai tradisi, tetapi juga sebagai warisan budaya yang layak dijaga di tengah perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....