Penguatan Skill Perempuan untuk Meningkatkan Kemandirian dan Keberdayaan

  • 06 Okt 2026 09:19 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Keterampilan atau skill menjadi salah satu bekal penting bagi perempuan untuk mengembangkan potensi diri, membuka peluang kerja, hingga meningkatkan kemandirian ekonomi. Di tengah tuntutan kehidupan yang semakin beragam, perempuan tidak hanya dituntut menjelankan peran dalam keluarga, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang dapat memberikan nilai tambah bagi dirinya maupun keluarga.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Purbalingga, Siti Latifah AMD, dalam Podcast Cerita Rumah RRI Pro 1 Purwokerto yang mengangkat tema "Perempuan Wajib Punya Skill" pada Minggu (4/10/2026).

Dalam podcast tersebut, Latifah membahas pentingnya perempuan memiliki keterampilan. Menurutnya, keterampilan dapat menjadi modal bagi perempuan untuk mengambil lebih banyak peran dalam kehidupan, termasuk membantu perekonomian keluarga.

“Kalau wanita enggak punya skill, enggak punya keterampilan, tidak punya value, itu tidak bisa banyak peran yang bisa diambil. Walaupun menjadi ibu rumah tangga itu juga bukan sebuah kesalahan. Tapi kalau enggak punya keterampilan, tidak ada yang bisa dilakukan untuk dirinya sendiri ataupun untuk keluarganya,” ujar Latifah.

Ia menjelaskan, menjadi ibu rumah tangga tetap merupakan peran yang penting dan membutuhkan keterampilan, terutama dalam mengelola rumah tangga dan keluarga. Namun, perkembangan kondisi ekonomi membuat perempuan memiliki peluang sekaligus kebutuhan untuk mengembangkan keterampilan lain yang dapat memberikan nilai tambah.

Menurut Siti, kondisi ekonomi saat ini membuat sebagian keluarga membutuhkan dukungan tambahan dari pihak istri. Kenaikan kebutuhan hidup, biaya pendidikan anak, serta berbagai kebutuhan keluarga dapat mendorong perempuan untuk ikut berkontribusi secara ekonomi.

Dengan memiliki keterampilan, perempuan dapat menciptakan peluang penghasilan tanpa harus selalu meninggalkan keluarga. Bahkan, keterampilan tertentu dapat dikembangkan dari rumah dan menjadi kegiatan usaha yang menghasilkan pendapatan.

“Dengan keterampilan inilah perempuan bisa lebih bervalue, bisa lebih berdaya lagi untuk menciptakan pendapatan yang diraih atau yang didapat itu berasal dari rumah sendiri tanpa dia harus meninggalkan keluarganaya,” jelasnya.

Untuk mendukung perempuan dalam mengembangkan keterampilan, BLK Kabupaten Purbalingga menyediakan berbagai program pelatihan. Beberapa di antaranya meliputi teknik las, teknik otomotif, tata boga, kecantikan, digital marketing, desain grafis, komputer, hingga garmen.

Peserta pelatihan juga memiliki latar belakangn yang beragam. Tidak hanya ibu rumah tangga, pelatihan diikuti oleh fresh graduate, masyarakat yang tidak dapat melanjurkan pendidikan, hingga mereka yang sudah bekerja tetapi ingin berganti bidang atau menambah kompetensi.

Di antara berbagai program yang tersedia, peserta perempuan banyak mengikuti pelatihan tata boga dan kecantikan. Namun, perempuan juga memiliki kesempatan untuk mengikuti pelatihan di bidang yang selama ini lebih banyak diasosiasikan dengan laki-laki.

Latifah mencontohkan adanya peserta perempuan dalam pelatihan teknik las. Menurutnya, pilihan bidang keterampilan tidak seharusnya dibatasi oleh anggapan mengenai pekerjaan yang cocok bagi perempuan atau laki-laki.

Seluruh peserta pelatihan di BLK Purbalingga juga mengikuti uji kompetensi setelah menyelesaikan pelatihan. Peserta yang memenuhi standar akan memperoleh sertifikasi kompetensi, termasuk sertifikasi yang dakui melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Sertifikasi tersebut menjadi salah satu nilai tambah bagi peserta karena dapat menjadi bukti bahwa keterampilan yang dimiliki telah melalui proses pelatihan dan pengujian. Lulusan garmen, misalnya, sebagian dapat diasalurkan ke perusahaan, sedangkan lulusan tata boga dan MUA banyak yang memilih mengembangkan usaha secara mandiri.

Meski kesempatan untuk belajar keterampilan telah terbuka, Latifah mengatakan masih ada perempuan yang merasa ragu untuk mengikuti pelatihan. Bagi perempuan yang telah berumah tangga, salah satu kekhawatirannya adalah meninggalkan anak selama mengikuti pelatihan.

Selain itu, tantangan yang cukup besar juga berasal dari rasa tidak percaya diri. Sebagian peserta merasa tidak mampu karena sebelumnya tidak memiliki latar belakang pendidikan kejuruan atau belum pernah mempelajari keterampilan tertentu. Menurut Latifah, keraguan tersebut justru perlu dikalahkan agar perempuan dapat menyadari potensi yang dimilikinya.

“InsyaAllah sih kalau mereka sebenarnya ya itu tantangan terberatnya justru di diri sendiri harus mau mengalahkan keraguannya bahwa aku tuh sebenarnya bisa loh menambah value,” ungkapnya.

BLK Purbalingga berupaya membangun kepercayaan diri peserta sejak sebelum pelatihan dimulai. Calon peserta terlebih dahulu diwawancarai untuk melihat kesiapan dan membangun keyakinan terhadap kemampuan diri. Selama pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan hard skill sesuai bidang yang dipilih, tetapi juga soft skill berupa motivasi dan literasi keuangan.

Durasi pelatihan pun disesuaikan dengan kompetensi yang dipelajari. Pelatihan kecantikan berlangsung sekitar 20 hari, teknik las sekitar 28 hari, sementara kompetensi tertentu dapat berlangsung hingga 30-33 hari. Peserta minimal berusia 17 tahun dan tidak terdapat batas usia maksimal selama bersedia mengikuti pelatihan secara penuh.

Dalam mengembangkan keterampilan, Latifah menyarankan perempuan memulainya dari hal yang disukai. Menurutnya, belajar berdasarkan hobi membuat proses pengembangan kemampuan menjadi lebih menyenangkan dan memungkinkan seseorang untuk lebih tekun. Ia menilai perempuan perlu terlebih dahulu mengenali potensi yang dimiliki, kemudian mengembangkannya menjadi kompetensi yang memiliki nilai.

“Kalau saya lebih memilih mengarahkan untuk teman-teman itu mulai dari hobi. InsyaAllah kalau berangkat dari hob ikan semuanya jadi menyenangkan,” katanya.

Latifah juga mendorong perempuan untuk tidak berhenti pada tahap memiliki kemampuan, tetapi terus menggali potensi tersebut agar dapat menjadi peluang. Keterampilan memasak, kecantikan, berbicara, desain, maupun kemampuan lainnya dapat dikembangkan sesuai minat masing-masing.

Ia menekankan bahwa keterampilan tidak selalu harus berjuang pada pekerjaan formal. Jika belum digunakan untuk membantu perekonomian kelyarga, keterampilan tetap dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kemandirian pribadi.

“Intinya saya mencari apa nih potensi yang ada dalam diriku, nanti kita gali jadikan itu sebagai peluang untuk menambah pendapatan ekonomi keluarga. Kalaupun tidak untuk keluarga ya minimal untuk diri sendiri,” pungkasnya.

Dengan demikian, memiliki keterampilan dapat menjadi salah satu cara bagi perempuan untuk mengenali potensi, meningkatkan kompetensi, dan membuka peluang baru. Pengembangan skill juga tidak harus dimulai dari sesuatu yang besat, tetapi dapat berangkat dari hal sederhana yang disukao dan kemudian dikembangkan secara konsisten. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....