Surga Jadi Tujuan Akhir, Umat Muslim Diingatkan Seimbang Jalani Dunia

  • 05 Okt 2026 10:59 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Kehidupan dunia merupakan bagian dari perjalanan manusia sebelum menuju kehidupan akhirat. Dalam program Tasbih Pro 2 RRI Purwokerto bersama M. Muamar, Lc., M.H., Dosen UMP, kali ini membahas mengenai surga sebagai tujuan akhir kehidupan seorang muslim sekaligus bagaimana menjalani kehidupan dunia tanpa melupakan persiapan menuju akhirat, Jumat (2/10/2026).

Mengusung tema “Surga, Tujuan Akhir Kita”, pembahasan menyoroti pentingnya umat Muslim memahami bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Dunia tetap perlu dijalani dengan baik, termasuk bekerja, mencari ilmu, membangun keluarga, dan melakukan berbagai aktivitas positif. Namun, seluruh aktivitas tersebut perlu diarahkan agar tidak membuat seseorang kehilangan orientasi terhadap kehidupan akhirat.

“Ya, kita sebagai seorang muslim tentunya tujuan dari kehidupan kita semuanya adalah untuk bisa mencapai surganya Allah Subhanahu wa ta’ala. Jadi di dunia ini hanya tempat sementara. Kita semua sedang melakukan perjalanan. Kita sedang singgah di dunia dan tujuan kita akhirnya adalah ingin masuk surga,” ujar M. Muamar.

Seorang Muslim pada dasarnya memiliki tujuan akhir untuk mendapatkan surga Allah SWT. Dunia bukanlah tempat terakhir manusia, melainkan tempat persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan menuju kehidupan yang kekal.

Gambaran mengenai surga dalam ajaran Islam menunjukkan adanya kehidupan yang penuh kebahagiaan dan tidak lagi diwarnai berbagai penderitaan sebagaimana yang dialami manusia selama hidup di dunia. Surga merupakan tempat yang abadi, sehingga kehidupan di dalamnya berbeda dengan kehidupan dunia yang memiliki batas waktu. Apa yang diinginkan oleh penghuninya juga akan terpenuhi. Gambaran tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan akhirat memiliki kedudukan yang jauh lebih panjang dibandingkan kehidupan manusia di dunia.

Namun, orientasi kepada surga bukan berarti seseorang harus meninggalkan seluruh aktivitas duniawi. Justru, kehidupan dunia perlu dijalani dengan mengisinya melalui berbagai kegiatan yang baik. Kesibukan dalam bekerja maupun menjalankan aktivitas sehari-hari dapat menjadi bagian dari proses seseorang mempersiapkan kehidupan akhirat selama dilakukan dengan cara yang benar.

“Semua orang mungkin punya kesibukan masing-masing, tapi itu juga bagian dari satu hal nikmat. Kadang-kadang orang bingung mau ngapain. Malah bingung mau ngapain. Waktunya terbuang sia-sia. Ada yang nganggur, ada yang dipakai waktunya untuk hal yang tidak berguna, maka beruntunglah kita yang disibukkan dengan kebaikan,” ungkap M. Muamar.

Banyaknya aktivitas tidak boleh membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk mengatur waktu. Kehidupan manusia memiliki berbagai kebutuhan yang harus dijalankan secara seimbang, mulai dari bekerja, beribadah, beristirahat, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga.

Menurutnya, setiap kegiatan perlu mendapatkan porsi yang sesuai. Ketika waktunya bekerja, seseorang perlu bekerja dengan baik. Ketika memasuki waktu ibadah, maka ibadah harus dijalankan. Demikian pula waktu istirahat dan waktu bersama keluarga juga perlu diperhatikan.

“Seberapapun sibuk kita tentunya harus bisa bagi waktu, waktunya kerja kerja, waktunya ibadah ibadah, waktunya istirahat istirahat, waktunya bersama keluarga ya bersama keluarga,” ujarnya.

Keseimbangan tersebut menjadi semakin penting di tengah kehidupan modern yang menghadirkan berbagai distraksi. Perkembangan teknologi, penggunaan telepon seluler, serta lingkungan pergaulan dapat memengaruhi fokus seseorang dalam menjalankan kehidupan.

Teknologi menjadi salah satu hal yang turut memengaruhi prioritas manusia. Kehadiran telepon seluler membuat seseorang dapat menghabiskan banyak waktu pada berbagai aktivitas yang belum tentu memberikan manfaat. Karena itu, kemampuan mengendalikan diri dinilai penting agar teknologi tidak justru menjauhkan seseorang dari tujuan hidupnya.

“Banyak ya misalnya perubahan zaman, lingkungan. Kalau dulu orang bisa mengerjakan hal-hal yang sifatnya macam-macam, kebaikan, tapi sekarang beda zaman. Setiap orang bisa sibuk dengan HP-nya masing-masing. Kemudian intinya teknologi itu juga berpengaruh terhadap yang menjadi prioritas manusia,” ungkap M. Muamar.

Selain teknologi, lingkungan pergaulan juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku dan kehidupan keagamaan seseorang. Karena itu, umat Muslim, khususnya generasi muda, perlu berhati-hati dalam memilih lingkungan dan teman.

Seseorang yang sebelumnya telah mendapatkan pendidikan agama dapat mengalami perubahan ketika berada dalam lingkungan yang berbeda. Pergaulan dapat membawa pengaruh terhadap pola pikir, gaya hidup, hingga kebiasaan seseorang.

Kehidupan dunia tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ada kalanya seseorang menghadapi kesulitan ekonomi, kesulitan memperoleh pekerjaan, maupun berbagai persoalan lainnya. Sebaliknya, ketika mendapatkan kesuksesan, seseorang juga dapat diuji melalui cara menggunakan keberhasilan tersebut.

Karena itu, baik kesulitan maupun kesuksesan perlu dihadapi dengan sikap yang tepat. Kesulitan tidak seharusnya membuat seseorang meninggalkan rasa syukur, sedangkan kesuksesan juga tidak seharusnya membuat seseorang melupakan Allah SWT.

“Memang kita ditugaskan oleh Allah untuk ibadah. Allah ciptakan jin dan manusia untuk ibadah. Tapi jangan memahami ibadah hanya sebatas ritual. Ada istilahnya ibadah mahdoh, ibadah ghairu mahdoh. Ibadah khusus, ibadah umum. Ibadah umum itu berarti ya bekerja adalah ibadah. Mencari ilmu ibadah, menolong orang lain ibadah. Bahkan tidur pun bisa bernilai ibadah,” jelas M. Muamar.

Dengan pemahaman tersebut, pekerjaan dan aktivitas duniawi dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju kehidupan akhirat. Syaratnya, pekerjaan dilakukan dengan cara yang halal dan baik serta disertai niat yang benar.

Seseorang tetap diperbolehkan mengejar kesuksesan dunia. Keinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik, memperoleh kekayaan, maupun membangun karier bukan sesuatu yang bertentangan dengan tujuan akhirat. Justru, keberhasilan dunia dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan lebih banyak kebaikan.

“Intinya waktunya bekerja, bekerja dengan baik. Itu menjadi sarana ibadah juga. Niatnya yang baik. Saya bekerja, niat ibadah, niat menafkahi keluarga. Pengin kaya enggak apa-apa pengin kaya ya. Tapi kan niatnya kaya, pengin sarana ibadah. Saya bisa haji, bisa umrah, bisa bahagiakan orang tua, bisa berbagi,” ujar M. Muamar.

Menurutnya, yang perlu diperhatikan bukan sekadar seberapa besar kesuksesan dunia yang diperoleh, tetapi bagaimana kesuksesan tersebut dicapai dan dimanfaatkan. Kekayaan maupun karier tidak menjadi masalah selama diperoleh melalui cara yang baik dan halal serta tidak disertai kesombongan.

Sementara itu, ibadah khusus seperti salat dan puasa tetap harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah diperintahkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah SAW. Dengan demikian, kehidupan dunia dan akhirat tidak perlu ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan.

Keduanya justru dapat berjalan beriringan. Seseorang dapat bekerja sekaligus beribadah, mencari ilmu sekaligus menjalankan kewajiban agama, serta membangun kehidupan keluarga sambil tetap menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Keinginan untuk masuk surga tidak bertentangan dengan keikhlasan dalam beribadah. Menurutnya, seorang Muslim tetap harus beribadah karena Allah dan mencari ridha-Nya. Namun, berharap mendapatkan surga merupakan sesuatu yang wajar karena surga memang telah dijanjikan Allah SWT.

Dalam menjalani kehidupan, manusia juga akan menghadapi berbagai ujian. Kekayaan, kemiskinan, kesehatan, sakit, kebahagiaan, maupun kesedihan merupakan bagian dari ujian kehidupan. Karena itu, kondisi dunia yang berubah-ubah seharusnya menjadi pengingat agar manusia tidak terlalu melekat pada kesenangan sementara.

“Dunia ini hanya sebentar. Tujuan kita adalah akhirat masuk surga. Maka jangan lupa dengan yang namanya ibadah, jalankan perintah Allah. Jangan beranggapan, ‘Ah, saya masih muda nanti ibadahnya kalau sudah tua.’ Kemarin dosen di UMP lagi ngajar. Siangnya sudah meninggal. Itu kan artinya kematian mendadak. Tidak ada yang tahu. Tidak memandang usia,” tegas M. Muamar.

Persiapan menuju akhirat tidak seharusnya ditunda. Usia muda bukan alasan untuk menunggu sampai tua dalam menjalankan ibadah. Kematian dapat datang kapan saja sehingga setiap orang perlu mempersiapkan diri melalui ibadah, berbuat baik kepada orang tua, menjaga hubungan dengan sesama, serta menghindari kesenangan yang dilarang.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar umat Muslim tidak hanya mengejar keberhasilan dunia. Kesuksesan dunia perlu berjalan bersama dengan keberhasilan akhirat, sehingga kehidupan yang dijalani tidak berhenti pada pencapaian sementara, tetapi juga memiliki tujuan yang lebih panjang. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....