Enam Tahapan Tujuan Hidup Jadi Kunci Seimbangkan Dunia dan Akhirat
- 25 Jul 2026 11:08 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Manusia modern kerap terjebak dalam ruang kehampaan hidup meski telah berada di puncak kesuksesan materi maupun karir. Fenomena ini terjadi akibat ketidakseimbangan antara pembangunan fisik dan pemenuhan kebutuhan spiritual yang menjadi fitrah dasar setiap individu.
Hal itu disampaikan Ust. Drs. KH. Achmad Kifni dalam kajian interaktif Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto yang disiarkan langsung pada Kamis (16/7/2026). Dalam tausiahnya, ia memaparkan konsep enam tingkatan tujuan penghidupan manusia sebagai kompas penting penyeimbang ambisi duniawi dan kedamaian batin.
"Manusia itu memiliki fitrah beriman, bertakwa, beribadah, dan bermanfaat. Kalau fitrahnya tidak terpenuhi, maka hidupnya akan hampa, sempit, atau kosong," ujar Ustaz Kifni.
Dalam pemaparannya, Ustaz Kifni merinci enam tahapan tujuan hidup manusia yang tertuang secara komprehensif di dalam Al-Qur'an. Tingkatan pertama dimulai dari pembentukan pribadi atau hamba Allah yang tekun beribadah (QS. Al-Baqarah: 21).
Tahap ini kemudian meningkat ke lingkup kedua, yakni membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah (QS. Ar-Rum: 21). Setelah pondasi domestik kokoh, tujuan hidup manusia harus meluas ke tingkatan ketiga, yaitu menciptakan lingkungan masyarakat yang barokah, beriman, dan bertakwa (QS. Al-A'raf: 96).
Fase berikutnya adalah mewujudkan tingkatan keempat, yakni bangsa atau negara yang baik (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur) sebagaimana diisyaratkan dalam Surah Saba ayat 15. Menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 pada Agustus mendatang, ia juga memberikan catatan kritis mengenai penegakan hukum di tanah air agar tidak tebang pilih demi menuju negara yang ideal.
Adapun tingkatan kelima mencakup pencapaian kebahagiaan dunia dan akhirat yang hasanah (QS. Al-Baqarah: 201). Puncaknya, tingkatan keenam atau yang tertinggi adalah ketika keberadaan manusia mampu membawa dampak kasih sayang bagi kelestarian alam semesta atau rahmatan lil 'alamin (QS. Al-Anbiya: 107).
Di akhir dialog Ustaz Kifni mengajak seluruh masyarakat untuk tidak bersikap apatis terhadap realitas sosial yang terjadi saat ini. Ia mendorong umat untuk terus berkontribusi secara nyata menjaga keselarasan hidup, mulai dari perbaikan kualitas ibadah pribadi hingga kepedulian menjaga keseimbangan alam sekitar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....