Memaknai Kehidupan lewat Buku Kematian dan Seni Mati Selagi Hidup

  • 21 Jul 2026 09:16 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Buku Kematian dan Seni Mati Selagi Hidup mengajak masyarakat memaknai kehidupan melalui sudut pandang yang berbeda. Alih-alih membahas kisah mistis, buku tersebut menghadirkan refleksi mengenai kematian sebagai bagian dari perjalanan hidup yang dapat menjadi pengingat untuk menjalani kehidupan dengan lebih bermakna. Hal tersebut disampaikan dalam dialog di Pro 2 RRI Purwokerto bersama perwakilan Yayasan Bakti untuk Umat Manusia (Bakum).

Perwakilan Yayasan Bakum, Dara, menjelaskan bahwa buku tersebut ditulis oleh tujuh kontributor yang berasal dari praktikan kampus rohani di bawah naungan yayasan. Menurutnya, isi buku merupakan hasil pembelajaran dan pengalaman yang berangkat dari nilai-nilai kebijaksanaan universal yang melampaui perbedaan suku, agama, ras, maupun golongan.

Ia menegaskan bahwa buku Kematian dan Seni Mati Selagi Hidup tidak mengangkat cerita horor ataupun pengalaman mistis. Sebaliknya, buku tersebut mengajak pembaca memahami kematian sebagai kepastian hidup yang dapat menjadi refleksi untuk menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.

"Nilai moral yang sebenarnya ingin kami usung di dalam karya ini adalah agar manusia lebih bisa menghargai kehidupan dan mendapati kebijaksanaan," ujarnya.

Salah satu kontributor buku, Om Dola, mengatakan bahwa kematian merupakan satu-satunya kepastian yang akan dialami setiap manusia. Menurutnya, kesadaran terhadap hal tersebut justru dapat mendorong seseorang menjalani hidup dengan lebih baik serta mengurangi rasa takut terhadap kematian.

Ia menambahkan bahwa buku tersebut ditulis berdasarkan pengalaman para praktikan selama menjalani proses pembelajaran di kampus rohani. Meski demikian, ia menegaskan bahwa tujuan utama buku bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan mengajak masyarakat melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.

"Manfaatnya, kita hidup dengan lebih hidup. Kita bisa lebih bermanfaat bagi orang lain dan tidak hidup dalam ketakutan," katanya.

Sementara itu, pendiri kampus rohani sekaligus narasumber yang akrab disapa Papi menilai pembahasan mengenai kematian masih sering dihindari, padahal setiap manusia akan mengalaminya. Menurutnya, memahami kematian dapat membantu seseorang lebih siap menghadapi berbagai risiko dalam kehidupan.

Ia juga menjelaskan bahwa buku tersebut tidak hanya menyajikan pembahasan teoritis, tetapi menjadi pengantar bagi masyarakat yang ingin mendalami tema tersebut melalui diskusi maupun proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh Yayasan Bakum.

Di akhir dialog, para narasumber berharap buku Kematian dan Seni Mati Selagi Hidup dapat menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk lebih menghargai kehidupan. Mereka juga mengajak masyarakat membuka ruang diskusi mengenai tema kematian sebagai bagian dari upaya memahami makna hidup, bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti. (Kartika)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....