Belajar Mensyukuri Nikmat Allah SWT dalam Kehidupan Sehari-hari

  • 03 Okt 2026 11:02 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya nikmat yang dimiliki seseorang. Cara seseorang menerima dan mensyukuri apa yang telah diberikan Allah menjadi salah satu kunci untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang tanpa terus membandingkan diri dengan orang lain.

Ustaz Enjang Burhanudin Yusuf dalam program Mutiara Pagi Pro1 RRI Purwokerto, Jumat (2/10/2026), mengatakan bahagia tanpa membandingkan diri dapat dimaknai dengan menikmati nikmat Allah dan menjalani takdir dengan penuh rasa syukur.

“Bahagia tanpa membandingkan diri itu menikmati nikmatnya Allah, menjalani takdir dengan rasa syukur,” ujar ustadz Enjang.

Menurutnya, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat menjadi salah satu penyebab seseorang sulit merasakan kebahagiaan. Padahal, kondisi tersebut bukan berarti seseorang tidak memiliki nikmat atau kebaikan dalam hidupnya.

“Salah satu yang menjadi penyebab seseorang sulit mendapat kebahagiaan bukan karena tidak ada nikmat, bukan karena ia tidak memiliki kebaikan yang diberikan Allah kepadanya, tetapi salah satu faktornya ialah karena ia sering membandingkan nikmat dirinya dengan nikmat yang dimiliki orang lain,” jelasnya.

Ustadz Enjang mengajak masyarakat merefleksikan sejumlah kisah dalam Alquran yang menggambarkan dampak buruk dari sikap membandingkan diri. Salah satunya adalah kisah Qabil dan Habil. Menurutnya, Qabil melakukan pembunuhan terhadap saudaranya, Habil, di antaranya dipicu oleh rasa iri dan sikap membandingkan dirinya dengan sang saudara.

Kisah lainnya adalah ketika Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Penolakan tersebut, kata Enjang, juga berkaitan dengan sikap merasa lebih baik dibandingkan Adam.

“Iblis membandingkan dirinya dengan Adam. Dia bilang dia lebih baik dari Adam karena Allah menciptakan dia dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah,” katanya.

Ia juga mengingatkan kisah Nabi Yusuf ketika saudara-saudaranya merasa iri kepadanya. Perasaan tersebut kemudian mendorong mereka merekayasa cerita kepada ayah mereka, Nabi Yakub.

Menurut ustadz Enjang, ketiga kisah tersebut dapat menjadi bahan refleksi bahwa membandingkan diri secara tidak sehat dapat membawa seseorang pada iri hati dan berbagai tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Di era media sosial, kebiasaan tersebut menjadi semakin mudah terjadi. Masyarakat dapat melihat kehidupan banyak orang hanya dalam hitungan detik. Namun, apa yang tampil di media sosial umumnya hanya sebagian dari kehidupan seseorang.

“Masalahnya yang kita lihat di medsos itu sering kali hanya potongan terbaik kehidupan orang lain. Padahal apa yang kita lihat belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan mereka,” ungkapnya.

Karena itu, Ustadz Enjang mengingatkan bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing. Kehidupan yang terlihat sempurna dari luar belum tentu menggambarkan persoalan yang sedang dihadapi seseorang.

“Yang perlu kita tahu bahwa setiap orang, siapapun mereka, sejatinya mereka sedang berjuang di level hidupnya masing-masing,” ujarnya.

Selain menghindari kebiasaan membandingkan diri, Enjang juga mengajak masyarakat memahami bahwa setiap manusia akan menghadapi ujian selama masih hidup. Ujian tersebut tidak hanya berupa kesulitan ekonomi atau kekurangan, tetapi juga dapat hadir dalam bentuk kelimpahan harta.

Menurutnya, kemiskinan memang dapat menjadi ujian bagi seseorang untuk bersabar menghadapi kekurangan. Namun, kekayaan juga merupakan ujian karena seseorang dapat diuji melalui cara menggunakan dan melepaskan hartanya.

“Sejatinya setiap ujian apa pun keadaannya selama dia masih hidup. Sayangnya, sering kali perspektif kita salah dalam melihat ujian tersebut,” katanya.

“Banyak di antara kita sepakat kalau kemiskinan itu ujian, tapi tidak banyak yang tahu kalau kaya raya itu juga ujian. Kalau orang kaya itu diuji dengan pelit, medit, bakhil sehingga dia tidak mau melepas hartanya. Sementara orang miskin diuji dengan kesabaran menghadapi kekurangan tersebut,” lanjut ustadz Enjang.

Ia menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari ujian selama hidup. Karena itu, fokus utama bukan membandingkan kondisi diri dengan orang lain, melainkan bagaimana menjalani keadaan yang diberikan dengan rasa syukur dan berusaha memberikan amal terbaik.

“Manusia asal masih hidup tidak akan pernah lepas dari ujian untuk memastikan siapa di antara kita ini yang paling baik amalnya,” pungkasnya.(Dwi Anis)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....