Rencana Tak Sesuai Harapan, Iman Tetap Jadi Pegangan

  • 21 Agt 2026 15:26 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Dalam menjalani kehidupan, setiap orang tentu memiliki rencana dan harapan yang ingin diwujudkan. Berbagai usaha pun dilakukan agar apa yang diinginkan dapat tercapai. Namun, tidak semua rencana berakhir sesuai harapan. Ketika hasil yang datang berbeda dari yang diinginkan, manusia perlu tetap bersabar, percaya pada ketetapan Allah, dan mengambil hikmah dari setiap ujian yang dihadapi.

Pesan tersebut disampaikan Ustaz Dr. Enjang Burhanudin Yusuf, S.S.,M.Pd dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, Jumat (21/8/2026), dengan tema “Ketika Rencana Tak Sejalan, Iman Tetap Jadi Pegangan” bagian kedua. Ia menekankan pentingnya kesungguhan dalam berikhtiar serta membangun sikap tawakal ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan rencana.

Menurutnya, tugas manusia sebagai hamba Allah adalah berusaha secara maksimal, bukan mengendalikan seluruh hasil dari usaha tersebut. Ia mengibaratkannya seperti seseorang yang menanam dan merawat tanaman.

“Bahasa sederhananya ialah kita bisa menanam, merawat, menyiram tanaman, kita tidak bisa memaksa tanaman bisa berbuah semau kita,” ucapnya.

Prinsip tersebut sejalan dengan pesan dalam Surah An-Najm bahwa manusia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang telah diusahakannya. Karena itu, ketika menghadapi hasil yang tidak sesuai harapan, seseorang tidak perlu terus-menerus mempertanyakan mengapa hasilnya demikian.

“Yang perlu kita tanyakan adalah, apakah kita sudah melakukan bagian kita dengan sebaik-baiknya,” jelasnya.

Setelah melakukan ikhtiar, sikap yang perlu dibangun adalah tawakal. Menurutnya, tawakal bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah seluruh usaha dilakukan dengan sungguh-sungguh.

“Maksimalkan ikhtiar, sungguhkan dan kuatkan doa yang kita panjatkan, lalu pasrahkan hasilnya kepada Allah SWT,” ujarnya.

Keinginan untuk selalu mendapatkan hasil sesuai rencana, menurutnya, justru dapat membuat seseorang mudah lelah. Sebab kehidupan tidak hanya diukur dari seberapa kaya, sukses, atau tinggi kedudukan seseorang. Lebih dari itu, manusia perlu mengingat keberadaan Allah dan berusaha memberikan manfaat bagi orang lain.

Hal tersebut tercermin dalam hadis Rasulullah SAW, khairunnas anfa'uhum linnas, yang bermakna sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Menurutnya, kegagalan seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar, sedangkan keberhasilan menjadi alasan untuk bersyukur.

Ia juga menyebut terdapat tiga hal yang perlu dijaga dalam menjalani kehidupan, yakni bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu yang bermanfaat, memohon pertolongan Allah melalui doa, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.

“Karena ikhtiar tanpa doa menjadi sombong, doa tanpa ikhtiar menjadi kemalasan. Jangan berhenti menyerah meski gagal, karena kita harus yakin banyak pintu menuju hal yang kita inginkan,” katanya.

Sebagai penutup, ustadz berpesan agar seberat apa pun persoalan yang dihadapi, seseorang tidak kehilangan keimanan. Sebab, iman dapat menjadi pegangan sekaligus membuka jalan yang tidak terduga. (Fauziyah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....