Menjaga Amanah Kepada Allah, Wujud Tanggung Jawab Seorang Hamba
- 14 Sep 2026 14:19 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Amanah dalam kehidupan tidak hanya berkaitan dengan tanggung jawab terhadap sesama manusia, tetapi juga memiliki hubungan erat antara seorang hamba dengan Allah SWT. Menjaga amanah kepada Allah diwujudkan melalui kesungguhan dalam menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta memastikan berbagai sarana yang mendukung ketaatan dapat terpenuhi dengan baik.
Hal tersebut disampaikan Ustaz Dr. Shofiyulloh, M.H.I. dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, Minggu (13/9/2026). Dalam kajian bertema “Amanah dalam Kehidupan: Antara Tanggung Jawab dan Pertanggungjawaban 2” tersebut, ia melanjutkan pembahasan mengenai makna amanah yang sebelumnya telah dibahas pada pekan lalu.
Pada pembahasan sebelumnya, amanah dijelaskan tidak berhenti pada menerima suatu tanggung jawab, tetapi harus menghasilkan kontribusi yang dapat dirasakan. Semakin positif dan luas kontribusi yang diberikan, semakin baik pula seseorang dalam menjaga amanah yang diberikan kepadanya.
Memasuki pembahasan kedua, Ust. Shofiyulloh menjelaskan bahwa amanah memiliki beberapa jenis. Mengutip penjelasan Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir, amanah dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yakni amanah yang berhubungan dengan Allah, amanah yang berhubungan dengan sesama makhluk, serta amanah yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Dalam kajian kali ini, pembahasan difokuskan pada jenis amanah yang berhubungan dengan Allah SWT. Menurutnya, amanah kepada Allah mencakup pelaksanaan terhadap berbagai perintah dan larangan-Nya.
Ustaz Shofiyulloh menjelaskan bahwa amanah bukanlah sesuatu yang dapat dipandang sederhana. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT memerintahkan manusia untuk menyampaikan amanah kepada pihak yang berhak menerimanya. Hal tersebut menunjukkan bahwa amanah memiliki konsekuensi berupa tanggung jawab sekaligus pertanggungjawaban.
Ia menekankan bahwa seseorang tidak cukup hanya menerima amanah, tetapi juga harus memastikan amanah tersebut terlaksana dan memberikan kontribusi yang sesuai.
“Allah itu tidak kemudian menyuruh kita hanya menerima amanah saja, tetapi juga memerintahkan antuaddul amanati ila ahliha, yaitu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Jangan sampai kemudian kita dalam kehidupan sehari-hari kita, kita hanya berambisi menjadi misalkan seorang pejabat atau seorang pimpinan dan lain sebagainya gitu ya, hanya sekadar itu, terus setelah itu selesai. tidak,” jelas Ustaz Shofiyulloh.
Kedudukan atau jabatan bukanlah ukuran utama keberhasilan seseorang dalam menjalankan amanah. Hal yang lebih penting adalah bagaimana tanggung jawab yang diterima dapat disampaikan dan diwujudkan secara nyata.
Seseorang yang diberi amanah sebagai pemimpin maupun pejabat harus mampu memberikan dampak bagi orang lain. Apabila kewenangan yang dimiliki tidak menghasilkan kontribusi, maka amanah tersebut belum terlaksana dengan baik.
Ustaz Shofiyulloh menjelaskan bahwa sifat amanah menjadi salah satu pondasi penting dalam kehidupan seorang Muslim.
“Semakin dia amanah ya semakin dia menjaga betul-betul tanggung jawab yang diberikan kepadanya maka itu berarti menjadi pondasi keimanan seseorang,” ungkapnya.
Menjaga amanah dapat menjadi gambaran mengenai kebaikan spiritual dan kedalaman iman seseorang. Amanah mencerminkan sikap bertanggung jawab, dapat dipercaya, serta mampu menghasilkan kontribusi positif dalam kehidupan. Karena itu, menjaga amanah menjadi salah satu bagian penting dalam upaya memperbaiki kualitas spiritual seorang Muslim.
“Jadi tanggung jawab kita sebagai seorang hamba kepada Sang Khaliq ya. Dengan cara apa? Dengan cara kita menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Itu merupakan amanah yang berhubungan dengan Allah,” ujar Ustaz Shofiyulloh.
Adapun amanah kepada Allah juga tidak hanya berhenti pada pelaksanaan perintah secara langsung. Ada pula berbagai wasilah atau sarana yang menjadi perantara terlaksananya ketaatan. Sarana tersebut juga perlu diperhatikan sebagai bagian dari tanggung jawab seorang hamba.
Ia memberikan contoh pelaksanaan salat. Salat merupakan perintah Allah, sementara berbagai hal yang mendukung terlaksananya salat juga perlu dipenuhi. Salah satunya adalah kewajiban menutup aurat.
Ketika seseorang hendak melaksanakan salat, pakaian yang digunakan menjadi salah satu sarana agar ibadah tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Oleh sebab itu, selama seseorang mampu menyediakan pakaian untuk menutup aurat, hal tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab yang harus dipenuhi.
Ibadah yang dijalankan dengan baik seharusnya menghasilkan dampak dalam kehidupan. Puasa, misalnya, diharapkan dapat meningkatkan kepedulian sosial seseorang. Sementara zakat diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan orang lain yang mengalami kekurangan.
Sehingga amanah kepada Allah memiliki keterkaitan dengan manfaat yang dihasilkan dalam kehidupan sosial. Ketaatan kepada Allah tidak hanya menjadi hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga dapat melahirkan kepedulian dan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Tidak hanya dalam menjalankan perintah, konsep wasilah juga berlaku dalam menjauhi larangan Allah. Ustaz Shofiyulloh menjelaskan bahwa suatu hal yang pada dasarnya bersifat netral dapat memiliki konsekuensi berbeda apabila digunakan untuk tujuan tertentu.
Ia memberikan gambaran melalui penggunaan berbagai benda atau sarana yang secara hukum asalnya tidak selalu berkaitan dengan perbuatan buruk. Namun, ketika sarana tersebut diketahui secara pasti digunakan untuk melakukan sesuatu yang dilarang, maka penggunaannya perlu diperhatikan.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab seorang Muslim tidak hanya berhenti pada mengetahui mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang. Seorang Muslim juga perlu memperhatikan sarana yang dapat membawa dirinya menuju ketaatan maupun menjauhkannya dari perbuatan yang dilarang.
“Boleh enggak sih jual beli pisau? Ya sejatinya ya boleh-boleh saja. Tetapi digunakan untuk apa itu si pembelinya?..lagi ada tawuran terus dia jualan pisau di jalan itu…terus orang yang lagi tawuran itu beli pisaunya. Ya jelas kalau pisaunha itu digunakan untuk sesuati yang negatif, yang bahaya, yang maksiat. Nah, tentunya penjualan pisau kepada orang tersebut, dikatakan haram,” ungkap Ustaz Shofiyulloh.
Pembahasan mengenai amanah kemudian berlanjut melalui sesi interaktif bersama pendengar. Salah satu pendengar menanyakan perbedaan antara amanah dan amanat serta kedudukan wasiat dalam perspektif syariat Islam.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ustaz Shofiyulloh menjelaskan bahwa istilah amanah dan amanat pada dasarnya memiliki makna yang sama. Sementara itu, wasiat juga dapat berkaitan dengan amanah ketika terdapat tanggung jawab untuk menyampaikan atau melaksanakan wasiat tersebut kepada pihak yang berhak.
Titipan juga merupakan bentuk amanah. Ketika seseorang menerima barang titipan dan bersedia menjaganya, maka terdapat tanggung jawab untuk menjaga barang tersebut sampai dikembalikan kepada pemiliknya.
Tanggung jawab seseorang juga mempertimbangkan sebab terjadinya suatu peristiwa. Apabila barang yang dititipkan telah dijaga dengan baik, tetapi kemudian mengalami kerusakan karena bencana yang tidak dapat dihindari, kondisi tersebut berbeda dengan kerusakan yang terjadi akibat kelalaian.
Pembahasan kemudian berlanjut pada pertanyaan mengenai nazar. Ustaz Shofiyulloh menjelaskan bahwa nazar yang berkaitan dengan ketaatan kepada Allah harus dilaksanakan apabila syarat yang dinazarkan telah terpenuhi.
Ia memberikan contoh seseorang yang bernazar akan berpuasa apabila berhasil mencapai suatu tujuan. Ketika tujuan tersebut tercapai, maka puasa yang telah dinazarkan perlu dilaksanakan.
Sebaliknya, apabila nazar berkaitan dengan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama, maka tidak dapat diposisikan sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan. Hal tersebut kembali kepada prinsip bahwa amanah kepada Allah diwujudkan melalui pelaksanaan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Pada bagian akhir kajian, Ustaz Shofiyulloh juga menanggapi pertanyaan pendengar mengenai seseorang yang telah bekerja keras dan merasa telah menuntaskan tanggung jawabnya, tetapi masih merasa cemas dengan pertanggungjawaban di akhirat.
Menurutnya, kekhawatiran terhadap pertanggungjawaban memang perlu diiringi dengan sikap optimis dan upaya menghasilkan manfaat. Ia menjelaskan bahwa harta, pekerjaan, maupun kemampuan yang dimiliki seseorang pada akhirnya memiliki konsekuensi pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Namun, hal tersebut tidak seharusnya membuat seseorang justru menghindari kesempatan untuk memberikan manfaat. Sebaliknya, kelebihan yang dimiliki dapat diarahkan untuk membantu orang lain melalui sedekah, zakat, infak, maupun bentuk kemanfaatan lainnya. Ukuran yang perlu dikejar bukan semata-mata rasa takut terhadap beratnya hisab, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat diberikan melalui amanah yang dimiliki.
“Jadi orang yang optimis. Kita ini harus menjadi orang yang optimis ya. Kita punya malah justru kemanfaatan itu yang harus kita kejar,” jelasnya.
Amanah tidak hanya berbicara tentang kewajiban yang harus diselesaikan, tetapi juga mengenai bagaimana tanggung jawab tersebut menghasilkan kebaikan dan manfaat.
Pada akhir kajian, Ustaz Shofiyulloh kembali menegaskan bahwa amanah yang berhubungan dengan Allah mencakup menjalankan perintah, menjauhi larangan, serta memenuhi berbagai sarana yang mendukung terlaksananya ketaatan. (Novita Widya Putri)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....